Rabu, 18 Juni 2014

SARANA DAN PRASARANA ABK



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Karena itu negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1). Namun sayangnya sistem pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keberagaman, sehingga menyebabkan munculnya segmentasi lembaga pendidikan yang berdasar pada perbedaan agama, etnis, dan bahkan perbedaan kemampuan baik fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. Jelas segmentasi lembaga pendidikan ini telah menghambat para siswa untuk dapat belajar menghormati realitas keberagaman dalam masyarakat.
Selama ini anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yang disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Secara tidak disadari sistem pendidikan SLB telah membangun tembok eksklusifisme bagi anak – anak yang berkebutuhan khusus. Tembok eksklusifisme tersebut selama ini tidak disadari telah menghambat proses saling mengenal antara anak – anak difabel dengan anak – anak non-difabel. Akibatnya dalam interaksi sosial di masyarakat kelompok difabel menjadi komunitas yang teralienasi dari dinamika sosial di masyarakat. Masyarakat menjadi tidak akrab dengan kehidupan kelompok difabel. Sementara kelompok difabel sendiri merasa keberadaannya bukan menjadi bagian yang integral dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Seiring dengan berkembangnya tuntutan kelompok difabel dalam menyuarakan hak – haknya, maka kemudian muncul konsep pendidikan inklusi. Salah satu kesepakatan Internasional yang mendorong terwujudnya sistem pendidikan inklusi adalah Convention on the Rights of Person with Disabilities and Optional Protocol yang disahkan pada Maret 2007. Pada pasal 24 dalam Konvensi ini disebutkan bahwa setiap negara berkewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan inklusi di setiap tingkatan pendidikan. Adapun salah satu tujuannya adalah untuk mendorong terwujudnya partisipasi penuh difabel dalam kehidupan masyarakat. Namun dalam prakteknya sistem pendidikan inklusi di Indonesia masih menyisakan persoalan tarik ulur antara pihak pemerintah dan praktisi pendidikan, dalam hal ini para guru.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja sarana dan prasarana umum dalam pendidikan ?
2.      Apa saja sarana khusus untuk ABK ?
3.      Apa saja prasarana khusus untuk ABK ?

C.  Tujuan
1.      Mengetahui sarana dan prasarana umum dalam pendidikan
2.      Mengetahui sarana khusus untuk ABK
3.      Mengetahui prasarana khusus untuk ABK















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sarana dan Prasarana Umum
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif tidak berbeda dengan sarana dan parasarana yang dibutuhkan di sekolah regular pada umumnya, yaitu:
1.        Ruang kelas beserta perlengkapannya (perabot dan peralatan)
2.        Ruang praktikum (laboratorium) beserta perangkatnya (perabot dan peralatan)
3.        Ruang perpustakaan beserta perangkatnya (perabot dan peralatan)
4.        Ruang serbaguna beserta perlengkapannya (perabot dan peralatan)
5.        Ruang BP/BK beserta perlengkapannya (perabot dan peralatan)
6.        Ruang UKS berta perangkatnya (perabot dan peralatan)
7.        Ruang kepala sekolah, guru, dan tata usaha, beserta perlengkapannya (perabot dan peralatan)
8.        Lapangan olahraga, beserta peralatannya (perabot dan peralatan)
9.        Toilet
10.    Ruang ibadah, beserta perangkatnya (perabot dan peralatan)
11.    Ruang kantin
12.    Ruang sumber (tempat alat bantu belajar anak berkebutuhan khusus)

B.Sarana Khusus untuk ABK
Penentuan sarana khusus untuk setiap jenis kelainan didasarkan pada skala prioritas artinya mengacu pada kondisi dan kebutuhan peserta didik.     
1.   Anak Tunanetra
a.        Alat  Asesmen
Bervariasinya kelainan penglihatan pada  anak tunanetra menuntut adanya pemeriksaan  yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Assesmen kelainan penglihatan dilakukan  untuk mengukur kemampuan penglihatan dalam bentuk geometri, mengukur kemampuan penglihatan dalam mengenal warna, serta mengukur ketajaman penglihatan. Alat yang digunakan  untuk assesmen penglihatan anak tunanetra dapat seperti di bawah ini.
1)       Snellen Chart  (alat untuk mengetes ketajaman penglihatan dalam bentuk hurup dan simbol E)
2)       Ishihara Test (alat untuk mengetes ”buta warna”)
3)       SVR (Trial Lens Set) (alat untuk mengukur ketajaman penglihatan)
4)       Snellen Chart Electronic (alat untuk mengetes ketajaman penglihatan sistem elektronik – bentuk hurup dan simbol E)
b.        Orientasi dan Mobilitas
Pada umumnya anak tunanetra mengalami gangguan orientasi mobilitas baik sebagian  maupun secara keseluruhan. Untuk pengembangan orientasi mobilitasnya dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat berikut ini.
1)        Tongkat panjang (alat bantu mobilitas berupa tongkat panjang yang terbuat dari allumunium)
2)         Tongkat Lipat (alat bantu mobilitas berupa tongkat yang dapat dilipat  terbuat dari allumunium)
3)        Tongkat elektrik (alat bantu mobilitas berupa tongkat yang berbunyi apabila ada benda di dekatnya)
4)        Bola bunyi  (bola sepak yang mengeluarkan bunyi)
5)        Pelindung kepala (alat pengaman kepala dari benturan/helm sport)
c.         Alat Bantu Pembelajaran/Akademik
Layanan pendidikan untuk anak tunanetra selain membaca, menulis, berhitung juga mengembangkan sikap, pengetahuan dan  kreativitas.
Akibat kelainan penglihatan anak  tunanetra mengalami kesulitan  dalam menguasai kemampuan membaca, menulis, berhitung.
Untuk membantu penguasaan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dapat dilakukan  dengan menggunakan alat-alat seperti berikut ini.
1)        Peta Timbul  (peta tiga dimensi bentuk relief)
2)        Abacus (alat bantu berhitung)
3)        Penggaris Braille (penggaris dengan skala ukur bentuk relief)
4)        Blokies (sejumlah dadu dengan simbol Braille dengan papan berkotak)
5)        Papan  Baca (alat untuk melatih membaca)
6)        Meteran Braille (alat untuk mengukur panjang/lebar dengan skala ukur dengan simbol Braille)
7)        Kompas Braille (pengukur posisi arah angin dengan tanda Braille)
8)        Kompas bicara (penunjuk arah angin dengan suara)
9)        Talking Watch (jam-tangan elektronik yang dapat mengeluarkan suara)
10)    Gelas Rasa (gelas untuk mengukur tingkat sensitifitas rasa)
11)    Botol Aroma (botol berisi cairan untuk mengukur tingkat sensitifitas bau)
12)    Braille Kit (perlengkapan pengenalan huruf dan angka Braille)
13)    Mesin tik Braille (mesin tik dengan huruf Braille)
14)    Kamus bicara (kamus yang dapat mengeluarkan suara  berbentuk CD)
15)    Jam tangan  Braille (jam tangan dengan huruf Braile)
16)    Puzzle Ball (puzle bentuk potongan bola/lingkaran)
17)    Model Anatomi (Model anatomi tiga dimensi dan dapat dirakit)
18)    Globe Timbul (bola dunia tiga dimensi)
19)    Bentuk–bentuk Geometri (puzle bentuk potongan geometris/peraturan)
20)    Collor Sorting Box (alat untuk melatih ketajaman penglihatan melalui diskriminasi  warna)
21)    Dan sebagainya.
d.        Alat Bantu Visual (alat  bantu penglihatan)
Kelainan  penglihatan  anak tunanetra bervariasi dari yang ringan (low vision) sampai yang  total (total blind). Untuk membantu memperjelas penglihatannya pada anak tunanetra jenis  Low vision dapat digunakan  alat bantu sebagai berikut.
1)         Magnifier Lens Set (alat bantu penglihatan bagi low vision bentuk  hand and standing berbagai ukuran)
2)         CCTV (Closed Circuit Television/alat bantu baca untuk anak low vision berupa TV monitor)
3)         View Scan (alat bantu baca untuk anak low vision berupa scaner)
4)         Televisi (TV monitor/pesawat penerima gambar jarak jauh)
5)         Prism monocular (alat bantu melihat jauh)
e.         Alat Bantu Auditif (alat bantu pendengaran)
Untuk melatih kepekaan pendengaran anak tunanetra dalam mengikuti pelajaran dapat digunakan alat-alat seperti berikut ini:
1)        Tape Rekorder Doble Dek (alat rekam/tampil suara model dua tempat kaset)
2)        Alat Musik Pukul (alat-alat musik jenis pukul/perkusi)
3)        Alat Musik Tiup (alat-alat musik jenis tiup)
f.         Alat Latihan Fisik
Pada umumnya anak tunanetra mengalami kesulitan  dan kelambanan  dalam melakukan  aktivitas fisik/motorik. Hal ini akan berpengaruh terhadap kekuatan fisiknya yang dapat menimbulkan kerentanan  terhadap kesehatannya.
Untuk mengembangkan kemampuan fisik  alat yang  dapat digunakan untuk anak tunanetra adalah  sebagai berikut.
1)        Catur tunanetra (papan catur dangan permukaan tidak sama untuk kotak hitam dan putih, sehingga buah catur tidak mudah bergeser)
2)        Bridge tunanetra (kartu bridge dilengkapi huruf Braille)
3)        Sepak bola dengan bola berbunyi (bola sepak yang dapat menimbulkan bunyi)
4)        Papan Keseimbangan (papan titian untuk melatih keseimbangan pada saat berjalan)
5)        Power Rider (alat untuk melatih kecekatan motorik)
6)        Static Bycicle (speda permanen/tidak dapat melaju)

2.      Tunarungu/Gangguan Komunikasi
a.  Alat Asesmen
Bervariasinya tingkat kehilangan  pendengaran pada anak tunarungu/gangguan komunikasi menuntut adanya pengelolaan yang  cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan  kelebihan  yang dimilikinya.              
Asesmen kelainan pendengaran  dilakukan  untuk mengukur kemampuan pendengaran, atau untuk  menentukan tingkat kekuatan  suara/sumber bunyi. Alat yang digunakan untuk asesmen  pendengaran anak tunarungu adalah  seperti berikut:
1.        Scan Test (alat untuk mendeteksi pendengaran tanpa memerlukan ruang khusus)
2.        Bunyi-bunyian  (alat yang dapat menimbulkan berbagai jenis bunyi)
3.        Garputala (alat pengukur getar bunyi/suara atau tinggi nada)
4.         Audiometer & Blanko Audiogram (alat kemampuan pendengaran dengan akurasi tinggi melalui tes audiometri)
5.        Mobile Sound Proof (kotak kedap suara sebagai perangkat tes audiometri)
6.        Sound level meter (alat pengukur kuat suara)
b.          Hearing Aids (Alat Bantu Dengar)
Anak tunarungu  mengalami gangguan  pendengaran baik dari ringan sampai berat/total. Untuk membantu pendengarannya dapat dilakukan menggunakan alat bantu dengar (hearing aid) seperti berikut ini.
1)        Model saku (alat bantu dengar model-saku)
2)        Model belakang Telinga (alat bantu dengan model ditempel di belakang telinga)
3)        Model dalam Telinga (alat bantu dengan model dimasukan langsung ke dalam  telinga)
4)        Model kacamata (alat bantu dengar model-kacamata yang diperuntukan sekaligus kelainan penglihatan)
Sementara itu,  untuk  membantu pendengaran  dalam proses    pembelajaran  dapat digunakan alat-alat  berikut ini:
1)        Hearing Group (alat bantu dengar yang dapat dipergunakan secara kelompok agar anak dapat berkomunikasi dan memanfaatkan sisa pendengaran)
2)         Loop Induction System (alat bantu dengar yang dapat dipergunakan secara kelompok agar anak dapat berkomunikasi dan memanfaatkan sisa pendengaran dilengkapi head sets)
c.         Latihan Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama
Pada umumnya anak tunarungu mengalami  gangguan  pendengaran  baik ringan maupun secara keseluruhan/total, sehingga mengakibatkan  gangguan atau hambatan komunikasi dan bahasa.
Untuk pengembangan  kemampuan berkomunikasi dan bahasa  dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat  sebagai berikut.
1)        Cermin (alat untuk memantulkan gambar/bercermin)
2)        Alat latihan meniup  (seruling, kapas, terompet, peluit untuk merangsang pernafasan dalam rangka persiapan perbaikan bicara)
3)        Alat musik perkusi (gong. gendang, tamborin, triangle, drum, kentongan)       
4)        Sikat getar (sikat dengan bulu-bulu khusus untuk melatih          kepekaan terhadap bunyi/getaran)
5)        Lampu aksen (kontrol suara dengan lampu indikator)
6)        Meja latihan wicara (meja tempat anak belajar berbicara
7)        Speech  and Sound Simulation (alat pelatihan bina bicara yang dilengkapi meja dan cermin)
8)        Spatel (alat bantu untuk membetulkan posisi organ artikulasi terbuat dari stainless steel)
9)        TV/VCD
d.        Alat Bantu Belajar /Akademik
Layanan pendidikan untuk anak tunarungu mencakup membaca, menulis, berhitung, mengembangkan perilaku positif, pengetahuan,  dan  kreativitas. Karena mengalami kelainan pada  pendengarannya, maka anak tunarungu mengalami kesulitan dalam menguasai  kemampuan membaca, menulis dan berhitung.
Untuk membantu penguasaan kemampuan di  bidang akademik, maka dibutuhkan layanan alat-alat yang dapat membantu  mengembangkan  kemampuan akademik anak tunarungu antara lain:
1)        Miniatur benda  (bentuk benda sebenarnya dalam ukuran kecil)
2)        Finger Alphabet (bentuk simbol huruf dengan isyarat  jari tangan)
3)        Silinder (bentuk-bentuk benda silindris)
4)        Kartu kata (kartu yang bertuliskan kata)
5)        Kartu kalimat (kartu yang bertuliskan kalimat singkat)
6)        Menara segitiga (susunan bentuk segi tiga dengan ukuran berurut
         dari kecil sampai besar)
7)        Menara lingkaran (susunan gelang dari diameter kecil sampai besar)
8)        Menara segi empat (susunan bentuk segi empat dengan ukuran berurut dari kecil sampai besar)
9)        Peta dinding (peta batas wilayah, batas pulau dan batas Negara yang dapat ditempel di dinding)
10)    Model geometri (model-model bentuk benda beraturan)
11)    Anatomi telinga (alat bantu menerangkan susunan bagian telinga)
12)    Model telinga (model bagian-bagian telinga tiga dimensi)
13)    Torso setengah badan (Model anatomi tubuh-setengah badan)
14)    Puzzle buah-buahan (potongan-potongan bagian dari buah-buahan
15)    Puzzle binatang (puzle bentuk potongan binatang)
16)    Puzzle konstruksi (puzle bentuk konstruksi/rancang bangun sederhana)
17)    Atlas (peta batas wilayah, batas pulau dan batas Negara)
18)    Globe (bola dunia yang menggambarkan benua dan batas-batas negara di dunia)
19)    Miniatur Rumah Adat (contoh rumah-rumah adat dalam ukuran kecil dan proporsional)
20)    Miniatur Rumah ibadah (contoh rumah-rumah ibadah dalam ukuran kecil dan proporsional)
e.         Alat Latihan Fisik
Untuk mengembangkan kemampuan motorik/fisik anak tunarungu, alat-alat yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
1)        Bola dan Net Volley
2)        Bola Sepak
3)        Meja Pingpong
4)        Raket, Net Bulutangkis dan Suttle Cock
5)        Power Rider (alat untuk melatih kecekatan motorik)




3.   Anak Tunagrahita
a.        Alat asesmen
Bervariasinya tingkat intelegensi dan kognitif anak tunagrahita, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.
Asesmen pada anak tunagrahita dilakukan untuk mengukur tingkat intelegensi dan kognitif, baik secara individual maupun kelompok. Alat untuk asesmen anak tunagrahita dapat digunakan seperti berikut ini:
1)        Tes Intelegensi WISC-R (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model WISC-R)
2)        Tes Intelegensi Stanford Binet (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model  Stanford Binet)
3)        Cognitive Ability test (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat pengetahuan yang dikuasai)
b.   Latihan Sensori Visual
Tingkat kecerdasan anak tunagrahita bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk berpikir abstrak dan mengalami kesulitan dalam membedakan warna dan mengenali bentuk. Untuk membantu sensori visual anak tunagrahita dapat menggunakan alat sebagai berikut:
1)        Gradasi Kubus  (bentuk-bentuk kubus dengan ukuran yang bervariasi untuk melatih kemampuan/pemahaman volume kubus)
2)        Gradasi Balok 1 (bentuk-bentuk balok dengan ukuran yang bervariasi satu warna)
3)        Gradasi Balok 2 (bentuk-bentuk balok dengan ukuran yang bervariasi berbagai warna)
4)        Silinder 1 (bentuk-bentuk silinder untuk melatih motorik mata-tangan untuk usia dini)
5)        Silinder 2 (bentuk-bentuk silinder dengan ukuran yang bervariasi )
6)        Silinder 3 (bentuk-bentuk silinder dengan ukuran, warna dan bahan yang bervariasi)
7)        Menara segitiga (susunan bentuk segi tiga dengan ukuran berurut dari kecil sampai besar)
8)        Menara lingkaran (susunan gelang dari diameter kecil sampai besar)
9)        Menara segi empat (susunan bentuk segi empat dengan ukuran berurut dari kecil sampai besar)
10)    Kotak Silinder (tempat menyimpan silinder-silinder alat bantu mengajar/belajar)
11)    Multi sensori (alat untuk melatih sensori seperti pemahaman bentuk, ukuran, warna atau klasifikasi objek dan tekstur)
12)    Puzzle Binatang (puzle bentuk potongan gambar binatang)
13)    Puzzle Konstruksi (puzle bentuk konstruksi/rancang bangun sederhana)
14)    Puzzle Bola (puzle bentuk potongan bola/lingkaran)
15)    Boks Sortir Warna (alat bantu untuk melatih persepsi penglihatan melalui diskriminasi warna)
16)    Geometri Tiga Dimensi (model-model bentuk benda beraturan tiga dimensi)
17)    Papan Geometri (Roden Set) (papan latih bentuk beraturan model Roden)
18)    Kotak Geometri (Box Shape) (kotak berpenutup berlubang sesuai bentuk-bentuk beraturan)
19)    Konsentrasi Mekanis (alat latih konsentrasi gerak mekanik)
20)    Formmenstockbox Mit (bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik mata-tangan dan konsep ruang)
21)    Formmenstockbox (bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik mata-tangan dan konsep ruang)
22)    Scheiben-Stepel Puzzle (bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik pergelangan tangan untuk kesiapan menulis)
23)    Formstec-Stepel Puzzle (bentuk-bentuk dan warna untuk melatih motorik dan konsentrasi)
24)    Fadeldreicke (alat untuk melatih ketajaman penglihatan dan koordinasi mata-tangan)
25)    Schmettering Puzzle (melatih hubungan ruang dan bentuk dalam kesatuan objek)
26)    Puzzle Set (berbagai puzzle untuk mengembangkan kreativitas, konsep rung dan melatih ingatan)
27)    Streckspiel (alat untuk melatih ketajaman penglihatan dalam dimensi warna dan ukuran, menyortir dan mengklasifikasi objel secara seriasi)
28)    Geo-Streckbrett  (alat untuk melatih ketajaman penglihatan dan koordinasi mata-tangan)
29)    Rogenbugentorte (alat untuk melatih kemampuan mendiskrinisasi warna dan motorik halus)
c.  Latihan Sensori Perabaan
Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk membedakan dan mengenali bentuk. Untuk membantu sensori perabaan anak tunagrahita dapat digunakan alat sebagai berikut:
1)        Keping Raba 1 (keping-keping benda dengan ukuran dan tekstur bervariasi)
2)        Keping Raba 2 (Gradasi Keping) (keping-keping benda dengan ukuran dan tekstur/tingkat kehalusan tinggi)
3)        Keping Raba 3 (Gradasi Kain) (berbagai kain dengan tingkat kekasaran/pakan/serat kain  yang bervariasi)
4)        Alas Raba (Tactile footh) (melatih kepekaan kaki pada lantai yang dikasarkan/dilapis lantai bertekstur kasar)
5)        Fub and Hand (Siluet tangan dan kaki)
6)        Puzzle Pubtastplatten (plat fuzle dengan siluet)
7)        Tactila (melatih kepekaan perabaan melalui diskriminasi taktual dan visual)
8)        Balance Labirinth Spirale (alat latih keseimbangan gerak tangan pada arah yang berbeda berbentuk spiral timbul)
9)        Balance Labirinth Maander (alat latih keseimbangan gerak tangan pada arah yang berbeda berbentuk segi empat timbul)
d.        Sensori Pengecap dan Perasa
Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk membedakan rasa dan membedakan aroma/bau. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan sensori pengecap dan perasa. Alat yang digunakan melatih sensori pengecap dan perasa dapat berupa:
1)        Gelas Rasa (gelas yang berisi cairan/serbuk untuk mengukur tingkat sensitifitas rasa)
2)        Botol Aroma (botol berisi cairan/serbuk untuk mengukur tingkat sensitifitas bau)
3)        Tactile Perception (untuk mengukur analisis perabaan)
4)        Aesthesiometer (untuk mengukur kemampuan rasa kulit)
e.         Latihan Bina Diri
Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan bina diri. Alat yang digunakan latihan bina diri dapat berupa:
1)        Berpakaian 1 (bentuk kancing)
2)        Berpakaian 2 (bentuk resleting)
3)        Berpakaian 3 (bentuk tali)
4)        Dressing Frame Sets (rangka pemasangan pakaian-kancing, resleting dan tali dikemas dalam satu bingkai)
5)        Pasta Gigi dan lain sebagainya
f.         Konsep dan Simbol Bilangan
Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk memahami konsep dan simbul bilangan. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan memahami konsep dan simbul bilangan. Alat yang digunakan melatih konsep dan simbul bilangan dapat berupa:
1)        Keping Pecahan (peraga bentuk lingkaran menunjukan bagian benda, ½, ¼, 1/3, dst)
2)         Balok Bilangan 1 (alat mengenal prinsip bilangan basis bilangan satuan)
3)         Balok Bilangan 2 (alat mengenal prinsip bilangan basis bilangan  puluhan)
4)         Geometri Tiga Dimensi (berupa bentuk-bentuk geometri tiga  dimensi yaitu: bulat, lonjong, segitiga, segiempat, limas, piramid).
5)        Abacus (alat untuk melatih pemahaman konsep bilangan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan nilai tempat)
6)        Papan Bilangan (Cukes) (berfungsi untuk melatih kemampuan memahami bilangan dan dasar-dasar operasi hitung)
7)        Tiang Bilangan (Seguin Bretter) (papan bersekat dengan angka puluhan dan nilai tempat, berfungsi melatih kemampuan memahami bilangan puluhan dan nilai tempat)
8)        Kotak Bilangan (kotak bersekat dilengkapi angka-angka 1 s.d 10 dengan lubang sekat 50, berfungsi untuk memperkenalkan konsep nilai dan simbol bilangan 1 sampai dengan 10)
g.        Kreativitas, Daya Pikir dan Konsentrasi
Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk berkreativitas dan pada daya pikirnya. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan memahami kreativitas, daya pikir dan konsentrasi. Alat yang digunakan dapat berupa:
1)        Tetris (kotak berisi potongan kayu untuk disusun beraturan sesuai petunjuk gambar
2)        Box konsentrasi mekanis (alat latih konsentrasi gerak mekanik bentuk kotak/boks)
3)        Fuzle konstruksi (puzle bentuk konstruksi/rancang bangun sederhana)
4)        Rantai persegi (mata rantai persegi yang dapat disusun/dirangkai menjadi bentuk bangun)
5)        Rantai bulat (mata rantai bulat yang dapat disusun/dirangkai menjadi bentuk bangun bola)
6)        Lego/Lazi (potongan-potongan dengan kaki dan kepala yang dapat saling dipasangkan membuat bangun tertentu)
h.        Alat Pengajaran Bahasa
Anak tunagrahita mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dan berbahasa. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan berbahasa. Alat yang digunakan melatih berbahasa dapat berupa:
1)        Alphabet Loweincase (simbol-simbol alphabet/abjad huruf besar)
2)        Alphabet Fibre Box (melatih membaca permulaan dengan cara merangkai huruf menjadi kalimat bahan dari fibre)
3)        Pias Kata (simbol-simbol kata untuk disusun menjadi kalimat)
4)        Pias Kalimat (pias-pias kata dan kalimat dilengkapi dengan gambar)

i.     Latihan Perseptual Motor
Keterbatasan intelegensi dan kognitif mengakibatkan anak tunagrahita mengalami kesulitan dalam perseptual motornya. Untuk itu anak tunagrahita perlu latihan perseptual motor. Alat yang digunakan melatih perseptual motor dapat berupa:
1)        Bak Pasir (melatih kreativitas bentuk)
2)        Papan Keseimbangan (papan untuk melatih keseimbangan    
3)        tubuh)
4)        Gradasi Papan Titian (papan untuk melatih keseimbangan    
5)        Tubuh dalam bentuk bertingkat)
6)        Keping Keseimbangan (tangga bertali-papan berpenopang)
7)        Power Rider (alat untuk melatih kecekatan motorik)
8)        Balancier Zehner (berfungsi melatih keseimbangan gerak tubuh yang terdiri dari untaian objek bentuk lingkaran)
9)        Balamcierbrett (berfungsi melatih dinamisasi tubuh berbentuk lingkaran yang diberi torehan melingkar untuk menaruh bola)
10)    Balancierwippe (berfungsi melatih keseimbangan tubuh melalui gerak kaki berbentuk bilah papan yang diberi torehan)
11)    Balancier Steg. (melatih keseimbangan untuk beberapa anak sekaligus yang terdiri dari bilah-bilah papan dan balok yang dapat dirubah)

4.   Anak Tunadaksa
a.  Alat Asesmen Kemampuan Gerak
Pada umumnya anak tunadaksa mengalami gangguan perkembangan intelegensi motorik dan mobilitas, baik sebagian maupun secara keseluruhan. Bervariasinya kondisi fisik dan intelektual anak tunadaksa, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.
Asesmen dilakukan pada anak tunadaksa dilakukan untuk mengetahui keadaan postur tubuh, keseimbangan tubuh, kekuatan otot, mobilitas, intelegensi, serta perabaan. Alat yang digunakan untuk assesmen anak tunadaksa seperti berikut ini:
1)        Finger Goniometer (alat ukur sendi-daerah gerak)
2)        Flexiometer (alat ukur kelenturan)
3)        Plastic Goniometer (alat ukur sendi terbuat dari plastik)
4)        Reflex Hammer (palu untuk mengukur gerak reflex kaki)
5)        Posture Evaluation Set (pengukur postur tubuh mengukur kelainan posisi tulang belakang)
6)        TPD Aesthesiometer (mengukur rasa permukaan kulit pada tubuh)
7)        Ground Rhytem Tibre Instrument (alat ukur persepsi bunyi)
8)        Cabinet Geometric Insert (lemari geometris)
9)        Color Sorting Box (kotak sortasi warna)
10)    Tactile Board Sets (papan latih perabaan sets)
b.        Alat Latihan Fisik/Bina Gerak
Pada umumnya anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Agar anak tunadaksa dapat melakukan kegiatan hidup sehari-hari diperlukan latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa:
1)        Pulley Weight (untuk menguatkan otot tangan dan perut)
2)        Kanavel Table (untuk menguatkan otot tangan, pergelangan dan jari tangan)
3)        Squeez Ball (untuk latihan daya remas tangan)
4)        Restorator Hand (untuk menguatkan otot lengan)
5)        Restorator Leg (untuk menguatkan otot kaki, tungkai)
6)        Treadmill Jogger (untuk menguatkan otot kaki, tungkai dan jantung)
7)        Safety Walking Strap (sabuk pengaman ketika berlatih jalan)
8)        Straight (tangga) (alat latih memanjat)
9)        Sand-Bag (pemberat beban pada latihan gerak sendi)
10)    Exercise Mat (latihan mobilisasi gerak tidur, berguling)
11)    Incline Mat (latihan untuk merangkak)
12)    Neuro Development Rolls (latihan untuk merangkak dan keseimbangan dalam posisi duduk)
13)    Height Adjustable Crowler (latihan untuk merangkak)
14)    Floor Sitter (untuk latihan duduk tegak di lantai)
15)    Kursi CP (untuk latihan duduk tegak posisi normal)
16)    Individual Stand-in Table (untuk latihan berdiri tegak dan aktivitas tangan)
17)    Walking Paralel  (untuk latihan jalan dengan pegangan memajang kiri dan kanan
18)    Walker Khusus CP (untuk latihan m obilitas berjalan)
19)    Vestibular Board (meja goyang untuk latihan keseimbangan)
20)    Balance Beam Set (papan titian untuk latihan keseimbangan)
21)    Dynamic Body and Balance (latihan keseimbangan dan meloncat)
22)    Kolam Bola-bola (untuk latihan koordinasi mata, kaki dan tangan)
23)    Vibrator (untuk mengatasi kekakuan otot)
24)    Infra-Red Lamp (Infra Fill) (melancarkan peredaran darah  dan relaksasi otot)
25)    Dual Speed Massager (alat pijat double kecepatan)
26)    Speed Training Devices (alat latih kecepatan gerakan mulut pada saat bicara)
27)    Bola karet (untuk latihan motorik)
28)    Balok berganda  (papan untuk melatih keseimbangan tubuh dalam bentuk bertingkat)
29)    Balok titian (papan untuk melatih keseimbangan tubuh)
c.         Alat Bina Diri
Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh. Keterbatasan atau hambatan tersebut mengakibatkan anak tunadaksa mengalami kesulitan untuk merawat diri sendiri. Agar anak tuna daksa dapat melakukan perawatan diri dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu latihan. Alat-alat yang dapat digunakan dapat berupa:
1)        Swivel Utensil (sendok khusus yang dimodifikasi untuk anak CP)
2)        Dressing Frame Set (rangka pemasangan pakaian)
3)        Lacing Shoes (kaus kaki)
4)        Deluxe Mobile Commade (alat latih buang air-kloset berjalan)

d.        Alat Orthotic dan Prosthetic
Anak tunadaksa mengalami hambatan dalam pindah diri (ambulasi), dan koordinasi/keseimbangan tubuh, karena kondisi tubuh mengalami kelainan. Agar anak tuna daksa dapat melakukan ambulasi dan kegiatan hidup sehari-hari (activity of daily living), maka perlu alat bantu (orthonic dan prosthetic). Alat-alat yang dapat digunakan meliputi:
1)        Cock-Up Resting Splint (meluruskan permukaan tangan dan jari)
2)        Rigid Immobilitation Elbow Brace (untuk mengatsi gerakan siku pada posisi fleksi 90 derajat)
3)        Flexion Extention (untuk membantu gerakan sendi siku)
4)        Back Splint (untuk menahan sendi lutut agar tidak melinting kebelakang dan sebagi penguat kaki pada saat berjalan)
5)         Night Splint (untuk mengistirahatkan kaki dalam posisi normal dan mencegah salah bentuk)
6)        Denish Browns Splint (mengoreksi telapak kaki yang salah bentuk)
7)        X Splint (mengoreksi bentuk kaki bentuk  X)
8)        O Splint (mengoreksi bentuk kaki bentuk  O)
9)        Long Leg Brace Set (menopang kaki yang layu agar kuat  berjalan/berdiri)
10)    Ankle or Short Leg Brace (untuk meluruskan tendon yang memendek atau meluruskan kaki serang)
11)    Original Thomas Collar (penyangga leher)
12)    Simple Cervical Brace (untuk mengoreksi leher dan  menegakkan bahu)
13)    Corsett (mengoreksi kelainan tulang punggung)
14)    Crutch (kruk) (untuk menopang tubuh)
15)    Clubfoot walker Shoes ((mengoreksi bentuk kaki yang tidak terkendali pada saat jalan)
16)    Thomas Heel Shoes (sepatu dengan hak yang bisa miring kiri-kanan)
17)    Wheel Chair (kursi roda)
18)    Kaki Palsu Sebatas Lutut
19)    Kaki Palsu Sampai Paha

e.    Alat Bantu Belajar/Akademik
Layanan pendidikan untuk anak tunadaksa mencakup membaca, menulis, berhitung, pengembangan sikap, pengetahuan dan kreativitas. Akibat mengalami kelainan pada motorik dan intelegensinya, maka anak tunadaksa mengalami kesulitan dalam menguasai kemampuan  membaca, menulis, berhitung.
Untuk membantu penguasaan kemampuan di bidang akademik, maka dibutuhkan layanan dan peralatan khusus. Alat-alat yang dapat membantu mengembangkan kemampuan akademik pada anak tunadaksa  dapat berupa:
1)        Kartu Abjad untuk pengenalan huruf
2)        Kartu Kata untuk pengenalan kata
3)        Kartu Kalimat untuk pengenalan kalimat
4)        Torso Seluruh Badan untuk pengenalan bagian anggota  tubuh manusia
5)        Geometri Sharpe untuk pengenalan bentuk dan untuk menyortir bentuk geometri
6)        Menara Gelang untuk latihan koordinasi mata dan tangan
7)        Menara Segitiga untuk pengenalan bentuk segitiga
8)        Menara Segiempat untuk pengenalan bentuk segi empat
9)        Gelas Rasa untuk membedakan macam-macam rasa
10)    Botol Aroma untuk membedakan macam-macam bau/aroma
11)    Abacus dan Washer untuk belajar berhitung
12)    Papan Pasak untuk belajar berhitung dan koordinasi
13)    Kotak Bilangan untuk belajar berhitung

5.  Tunalaras
a.        Asesmen Gangguan Perilaku
Anak tunalaras adalah anak yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Terganggunya perilaku anak tunalaras, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.
Asesmen dilakukan pada anak tunalaras untuk mengetahui penyimpangan perilaku anak. Alat yang digunakan untuk assesmen anak tunalaras seperti berikut ini:
1)   Adaptive Behavior Inventory for Children
2)   AAMD Adaptive Behavior Scale
b.   Alat Terapi Perilaku
Perilaku menyimpang yang dilakukan anak tunalaras cenderung untuk merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk mereduksi perilaku yang menyimpang, maka dibutuhkan peralatan khusus. Alat-alat tersebut dapat berupa:
1)        Pretend Game (untuk membantu anak dalam bersosialisasi dengan orang lain)
2)        Hide-Way (untuk bermain sembunyi-sembunyian)
3)        Put me a tune (untuk latihan menuangkan air ke cangkir)
4)        Copy cats (untuk menjalin interaksi dengan orang lain)
5)        Jig-saw puzzle (teka-teki untuk melatih memecahkan masalah)
6)        Puppen house (untuk melatih bermain peran)
7)        Hunt the Timble (permainan sulap untuk mengingatkan kembali permainan yang telah lalu)
8)        Sarung tinju (terbuat dari kulit untuk menyalurkan rasa emosional)
9)        Hoopla (untuk latihan koordinasi mata dan tangan)
10)    Sand Pits (untuk melatih gerakan tangan dengan menggunakan tangan atau memasukan jari kakinya)
11)    Animal Matching Games (untuk latihan mencocokan gambar binatang)
12)    Organ (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)
13)    Tambur dengan Stick dan Tripod (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)
14)    Rebana (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)
15)    Flute (untuk melatih kepekaan, kesenian dan mengapresiasikan musik)
16)    Torso (untuk mengenal organ tubuh manusia)
17)    Constructive Puzzle (melatih kemampuan pemecahan masalah)
18)    Animal Puzzle (untuk mengenal berbagai jenis binatang)
19)    Fruits Puzzle (untuk mengenal berbagai jenis buah-buahan)
c.         Alat Terapi Fisik
Untuk mengembangkan kemampuan motorik/fisik anak tunalaras, alat yang dapat digunakan seperti berikut ini:
1)   Matras
2)   Straight-Type Staircase
3)   Bola Sepak
4)   Bola, Net Volley
5)   Meja Pingpong
6)   Power Rider
7)   Strickleiter 
8)   Trecketsando (5 flat)
9)   Rope Lader

6.    Anak Berbakat
a.    Alat Asesmen
Anak berbakat mempunyai kemampuan yang istimewa dibanding teman sebayanya. Istimewanya kondisi anak berbakat menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menentukan apa yang dibutuhkan dapat memperoleh pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuannya.
Asesmen dilakukan pada anak berbakat untuk mengetahui. Keberbakatan dan menilai tentang kebutuhannya untuk menempatkan dalam program-program pendidikan sesuai de­ngan dan dalam rangka mengembangkan potensinya. Alat yang digunakan untuk assesmen anak berbakat seperti berikut ini:
1)   Tes Intelegensi WISC-R (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model WISC-R)
2)   Tes Intelegensi Stanford Binet (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang model  Stanford Binet)
3)   Cognitive Ability Tes (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat pengetahuan yang dikuasai)
4)   Differential Aptitude Test (alat atau instrumen isian untuk mengukur tingkat sikap)
b.  Alat Bantu Ajar/Akademik
Anak berbakat memiliki sifat selalu haus pengetahuan dan tidak puas bila hanya mendapat penjelasan dari orang lain, mereka ingin menemukan sendiri dengan cara trial and error (mengadakan percobaan/praktikum) di laboraturium atau di masyarakat.
Untuk itu sekolah inklusif hendaknya perlu mengusahakan sarana yang lengkap. Sarana-sarana belajar tersebut meliputi:
1)   Sumber belajar:
a)        Buku paket
b)        Buku Pelengkap
c)         Buku referensi
d)        Buku bacaan
e)         Majalah
f)         Koran
g)        Internet
h)        Dan sebagainya
2)  Media pembelajaran
a)        Radio
b)        Cassette recorder
c)        TV
d)       OHP
e)        Wireless
f)          Slide projector
g)        LD/VCD/DVD player
h)        Chart
i)          Komputer, dan lain sebagainya



7.   Anak yang Mengalami Kesulitan Belajar
a.    Alat Asesmen
Anak yang mengalami kesulitan belajar merupakan kondisi kronis yang diduga bersumber neurologis yang secara selektif menggangu perkembangan, integrasi, dan/atau kemampuan verbal dan/atau non verbal. Kesulitan belajar dapat berupa kesulitan berbahasa, membaca, menulis dan atau matematika.
Bervariasinya kesulitan belajar, menuntut adanya pengelolaan yang cermat dalam mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Hal ini penting dalam upaya menetukan apa yang dibutuhkan dapat mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan keadaannya.
Asesmen pada anak yang mengalami kesulitan belajar dilakukan  untuk mengetahui bentuk kesulitan belajar dan untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan program pembelajarannya. Alat yang digunakan untuk assesmen anak yang mengalami kesulitan belajar seperti berikut ini:
1)   Instrumen ungkap riwayat kelainan
2)   Tes Inteligensi WISC
b.  Alat Bantu Ajar/Akademik
1)   Kesulitan Belajar Membaca (Disleksi)
Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar membaca (remedial membaca) meliputi:
a)        Kartu Abjad
b)        Kartu Kata
c)        Kartu Kalimat
d)       Kesulitan Belajar Bahasa
Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar bahasa (remedial bahasa) meliputi:
a)        Kartu Abjad
b)        Kartu Kata
c)        Kartu Kalimat
3)   Kesulitan Belajar Menulis (Disgrafia)
Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (remedial menulis) meliputi:
a)      Kartu Abjad
b)      Kartu Kata
c)      Kartu Kalimat
d)     Balok bilangan 1
e)      Balok bilangan 2
4)   Kesulitan Belajar Matematika (Diskalkulia)
Sarana khusus yang diperlukan oleh anak yang mengalami kesulitan belajar matematika (remedial matematika)  meliputi:
a)      Balok bilangan 1
b)      Balok bilangan 2
c)      Pias angka
d)     Kotak bilangan
e)      Papan bilangan

C.    Prasarana Khusus
1.      Anak Tunanetra
Untuk peserta didik tunanetra diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Asesmen,  Konsultasi, Orientasi dan Mobilitas, Remedial Teaching, Latihan Menulis Braille,  Latihan Mendengar, Latihan Fisik, Keterampilan, dan penyimpanan alat.
2.       Anak Tunarungu/Gangguan Komunikasi
Untuk peserta didik tunarungu/Gangguan Komunikasi diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Asesmen,  Konsultasi, Latihan Bina Wicara, Bina Persepsi Bunyi dan Irama, Remedial Teaching,  Latihan Fisik, Keterampilan, dan penyimpanan alat.
3.      Anak Tunagrahita
Untuk peserta didik Tunagrahita/Anak Lamban Belajar diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  Konsultasi, Latihan sensori, Bina diri, Remedial Teaching,  Latihan Perseptual, Keterampilan, dan penyimpanan alat.
4.      Anak Tunadaksa
Untuk peserta didik Tunadaksa diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  konsultasi, Latihan fisik, Bina diri, Remedial Teaching,  Keterampilan, dan penyimpanan alat.
5.      Anak Tunalaras
Untuk peserta didik Tunalaras diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  Konsultasi, Latihan perilaku, Terapi permainan, Terapi fisik, Remedial Teaching, dan penyimpanan alat.
6.      Anak Cerdas Istimewa
Di samping memberdayakan atau mengoptimalkan penggunaan prasarana yang ada apabila di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif peserta didiknya ada yang berkecerdasan istimewa, prasarana khusus yang perlu disediakan adalah ruang assesmen.
7.      Anak Berbakat Istimewa
Untuk anak berbakat istimewa di samping memberdayakan atau mengoptimalkan penggunaan prasarana yang ada apabila di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif peserta didiknya ada yang berbakat, prasarana khusus yang perlu disediakan adalah ruang assesmen.
8.         Anak yang Mengalami Kesulitan Belajar
Untuk peserta didik yang Mengalami Kesulitan Belajar diperlukan ruang untuk melaksanakan kegiatan Assesmen,  dan Remedial. Sebagai catatan, pada dasarnya di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif cukup disiapkan satu unit ruang sebagai ”Resource Room” atau ruang sumber.








BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Macam-macam alat yang dibutuhkan bagi tiap-tiap anak berkebutuhan khusus adalah:
b.        Alat asesmen
c.         Alat bantu fisik
d.        Alat bantu akademik
e.         Orientasi dan mobilitas bagi tiap-tiap kebutuhan khusus
f.         Sarana dan prasarana khusus yang diperlukan masing-masing siswa berkebutuhan khusus.

B.                 Saran
Berdsarkan bermacam-macam dan berbedanya jenis dari Anak Berkebutuhan Khusus, maka seyogyanya setiap sekolah yang ditunjuk melakukan pendidikan inklusi memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut:
g.        Alat asesmen
h.        Alat bantu fisik
i.          Alat bantu akademik
j.          Orientasi dan mobilitas bagi tiap-tiap kebutuhan khusus
k.        Sarana dan prasarana khusus yang diperlukan masing-masing siswa berkebutuhan khusus.








DAFTAR PUSTAKA
Abdul Salim Choiri, dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Secara Inklusif. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar