Rabu, 18 Juni 2014

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF



PERMASALAHAN-PERMASALAHAN DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF


Tugas Mata Kuliah Pendidikan Inklusi Semester IV
Dosen Pengampu : Drs. Muh. Chamdani, M.Pd.




Disusun Oleh:
Syukron Zahidi A
K7110567
KELAS IV B




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012



BAB I
PENDAHLUAN

A.    Latar Belakang
Kebijkan pendidikan inklusif merupakan  “system penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya” (Permendiknas,Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidkan Inklusif).

Pendidikan inklusif merupakan sauatu pendekatan pendidikan yang inovatif dan strategis untuk  memperluas  akses  pendidikan bagi semua anak berkebutuhan khusus termasuk anak penyandang cacat. Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan inklusi juga dapat dimaknai sebagi satu bentuk reformasi pendidikan yang menekankan sikap anti diskriminasi,  perjuangan persamaan hak dan kesempatan, keadilan, dan perluasan akses pendidikan bagi semua,  peningkatan mutu pendidikan, upaya strategis dalam menuntaskan wajib belajar 9 tahun, serta upaya merubah sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus.
Secara formal pendidikan inklusi di Indonesia baru  dilaksanakan dalam satu dasa warsa terakhir, namun diyakini bahwa secara alamiah pendidikan inklusi sudah berlangsung sejak lama. Hal ini tidak lepas dari faktor-faktor filosofi, sosial, maupun budaya  Indonesia yang sangat menghargai  dan menjunjung tinggi kebihinekaan atau keberagaman. Faktor-faktor ini tentu dapat menjadi modal dasar bagi pengembangan penyelenggaraan pendidikan inklusi yang sekarang sedang digalakkan.

B.     Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah-masalah yang muncul dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana keberadaan pendidikan inklusi dalam konteks persekolahan Nasional?
2.      Permasalahan yang dialami sekolah-sekolah yang mengadakan pendidikan inklusif?
3.      Kondisi di lapangan dalam penerapan pendidikan inklusi?

C.    Tujuan
Meninjau rumusan masalah, maka yang diharapkan dalam makalah ini supaya pembaca dan penulis dapat:
1.      Mengetahui keberadaan pendidikan inklusif dalam konteks Nasional
2.      Mengerti dan mengetahui dasar adanya pendidikan inklusif sesuai konteks Nasional.
3.      Mengetahui dan dapat menemukan solusi untuk tindak lanjutnya dari permasalahan-permasalahan yang dialami sekolah-sekolah dalam mengadakan pendidikan inklusif.
4.      Mengetahui kondisi lapangan setelah adanya observasi. Penulis telah observasi di SD Negeri Pecarikan Prembun Kebumen.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Keberadaan Pendidikan Inklusif dalam konteks persekolahan Nasional
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional yang didalamnya mengamanatkan tujuan dan fungasi pendidikan, termasuk sistem pendidikan untuk ABK. Dari undang-undang ini kemudian hadir berbagai peraturan tentang pendidikan salah satunya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mencakup delapan (8) standar.  Inti kebijakan ini adanya sistem pendidikan yang bersifat umum sebagai tolak ukur minimal kulaitas layanan pendidikan.Implementasi dari kebijakan tersebut diharapakan setiap layanan pendidikan dapat mencapai ketuntasan minimal.
Secara konseptual pendidikan inklusif merupakan sistem layanan Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang mempersyaratkan agar semua ABK dilayanai di sekolah umum terdekat bersama teman seusianya. Dalam pendidikan inklusi menempatan ABK tingkat ringan, sedang dan berat  secara penuh di kelas biasa.
Secara umum pendidikan inklusif dapat dikelompokan sesuai dengan konsep pendidikan Nasional yaitu:  pertama, inklusif sebagai  pendidikan yang memberikan kesempatan yang adil kepada semua siswa untuk bisa mengakses pendidikan tanpa membedakan gender, etnik, status sosial dan kebutuhan khusus (kemampuan) pada semua level/jenjang pendidikan. Kedua, dalam sekolah inklusif menerapkan model multi input artinya tidak mengenal penolakan murid. Kondisi ini tentu berbeda dengan sistem seleksi siswa baru dalam persekolahan yang saat ini masih cenderung menggunakan seleksi peringkat nilai hasil kelulusan. Ketiga, program kurikulum dalam pendidikan inklusif berbasig kepada anak. Dalam hal ini tentu disesuaikan dengan kebutuah ABK. Penyelenggraan pembelajaran dilaksanakan dalam kelas bersama-sama siswa regular dan ABK.  Keempat,   sistem evaluasi bersifat “FAIR”/adil disesuaikan dengan kemampuan siswa. Bagi siswa yang mampu mengikuti evaluasi regular dievalusai sesuai sistem evaluasi reguker, dengan memodifikasi inbstrumen jika diperlukan. Namun bagi siswa dengan program terindividualisasikan (PPI) maka evaluasi disesuaikan dengan PPI-nya. Hasil evaluasi selain dikonfersi dalam bentuk kuantitatif dan berbentuk deskriptif, yang menggambarkan pencapaian kinerja. Khusus untuk ABK dengan kategori sedang dan berat hasil evaluasi bukan sebagai indikotor kenaikan jenjang pendidikan lanjut, tetapi sebagai tolak ukur peningkatan potensi kemandirian untuk kehidupan di lingkungannya.

B.     Permasalahan yang dialami sekolah-sekolah dalam mengadakan pendidikan inklusif
Sekalipun perkembangan pendidikan inklusi di negara kita cukup menggembirakan dan mendapat apresiasi dan antusiasme dari berbagai kalangan, terutama para praktisi pendidikan, namun  sejauh ini dalam tataran  implementasinya  di lapangan masih dihadapkan kepada berbagai isu dan permasalahan. Berdasarkan hasil penelitian Sunardi (2009) terhadap 12 sekolah penyelenggara inklusi di  Kabupaten dan Kota Bandung,  secara umum saat ini terdapat lima kelompok issue dan permasalahan pendidikan inklusi di tingkat sekolah yang perlu dicermati dan diantisipasi agar tidak menghambat, implementasinya tidak bisa, atau bahkan menggagalkan pendidikan inklusi itu sendiri, yaitu : pemahaman dan implementasinya, kebijakan sekolah, proses pembelajaran, kondisi guru, dan support system. Salah satu bagian penting dari suppor system adalah tentang penyiapan anak. Selanjutnya, berdasar isu-isu tersebut,  permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut:
1.      Pemahaman inklusi dan implikasinya
a.       Pendidikan inklusif bagi anak berkelainan/penyandang cacat  belum dipahami sebagai upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan. Masih dipahami sebagai upaya  memasukkan disabled children ke sekolah regular dalam rangka  give education right and kemudahan access education,  and againt discrimination. 
b.      Pendidikan inklusi cenderung dipersepsi sama dengan integrasi, sehingga masih ditemukan pendapat bahwa anak harus menyesuiakan dengan sistem sekolah. 
c.       Dalam implementasinya guru cenderung belum mampu bersikap   proactive  dan  ramah terhadap semua anak, menimbulkan  komplain orang tua, dan menjadikan anak cacat sebagai bahan olok-olokan.
2.      Kebijakan sekolah
a.       Sekalipun sudah didukung dengan visi yang cukup jelas, menerima semua jenis anak cacat, sebagian sudah memiliki guru khusus, mempunyai catatan hambatan belajar pada masing-masing ABK, dan kebebasan guru kelas dan guru khusus untuk mengimplementasikan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif, namun cenderung belum didukung dengan  koordinasi dengan tenaga profesional, organisasi atau institusi terkait.
b.      Masih terdapat  kebijakan  yang kurang tepat, yaitu  guru kelas tidak memiliki tangung jawab pada kemajuan belajar ABK, serta keharusan orang tua ABK dalam penyediaan guru khusus.
3.      Proses pembelajaran
a.       Proses pembelajaran  belum dilaksanakan dalam bentuk  team teaching, tidak dilakukan secara terkoordinasi. 
b.      Guru cenderung masih mengalami kesulitan  dalam merumusakan  flexible curriculum, pembuatan  IEP,  dan dalam menentukan tujuan, materi, dan metode pembelajaran.
c.       Masih terjadi kesalahan praktek bahwa  target kurikulum ABK sama dengan siswa lainnya  serta anggapan bahwa siswa cacat tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menguasai materi belajar.
d.      Karena keterbatasan fasilitas sekolah, pelaksanaan pembelajaran belum menggunakan  media, resource,  dan lingkungan yang beragam sesuai kebutuhan anak. 
4.      Kondisi guru 
a.       Belum didukung dengan kualitas guru yang memadai. Guru kelas masih dipandang not sensitive and proactive yet to the special needs children. 
b.      Keberadaan guru khusus  masih  dinilai  belum sensitif dan proaktif terhadap permasalahan yang dihadapi ABK.  
5.      Sistem dukungan
a.       Belum didukung dengan sistem dukungan yang memadai. Peran orang tua, sekolah khusus,  tenaga ahli, perguruan tinggi    LPTK PLB,  dan pemerintah masih  dinilai minimal. Sementara itu fasilitas sekolah juga masih terbatas. 
b.       Keterlibatan orang tua sebagai salah satu kunci  keberhasilan dalam pendidikan inklusi, belum terbina dengan baik. Dampaknya, orang tua  sering bersikap kurang peduli dan realistik terhadap anaknya.

C.    Kondisi di lapangan dalam penerapan pendidikan inklusif
Pada  sekolah yang secara alami mengembangkan pendidikan inklusif (penulis observasi di SD Negeri Pecarikan Prembun Kebumen),   beberapa kecenderungan yang terjadi di lapangan, diantaranya:
1.      Secara formal belum berpredikat sebagai sekolah inklusif, bahkan sampai sekarang belum tersentuh proyek sosialisasi dan pelatihan di bidang pendidikan inklusi 
2.      Para guru awalnya sempat khawatir akan menurunkan citra sekolah.
3.      Adanya protes terhadap kenaikan ABK, sementara ada anak normal yang tidak naik kelas.
4.      Tidak ada guru khusus, tetapi ini justru tantangan untuk  menemukan  metode baru (kreatif) melalui kebersamaan, saling diskusi, saling berbagai.
5.       Perubahan dan proses adaptasi pembelajaran dilakukan terus menerus melalui kerja sama, saling memotivasi, saling membantu, saling mendukung, komunikasi, dan belajar dari pengalaman.
6.      Mengembangkan kerjasama antar guru dan  meningkatkan jalinan  komunikasi dengan orang tua.
7.      Sekalipun diakui menambah beban tambahan, namun diterima sebagai tantangan.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pendidikan inklusif sebagai suatu sistem layanan ABK menyatu dalam layanan pendidikan formal. Konsep ini menunjukkan hanya ada satu sistem pembelajaran dalam sekolah inklusif, tetapi mampu mengakomudasi perbedaan kebutuhan belajar setiap individu. Dalam Sistem persekolahan Nasional yang selama ini masih cenderung menerapakan layanan pembelajaran dengan “model ketuntasan hasil belajar bersama” melalui bentuk belajar klasikal berdampak kurang memberikan kefleksibelan penerapan pendidikan inklusif, terutama bagi ABK dengan kondisi kemampuan mental rendah.
Sekalipun perkembangan pendidikan inklusi di Indonesia saat ini  semakin diterima   dan berkembang cukup pesat,  namun dalam tataran implementasinya masih dihadapkan kepada berbagai problema, isu, dan permasalahan yang harus disikapi secara bijak sehingga implementasinya tidak menghambat upaya dan proses menuju pendidikan inklusif itu sendiri  serta selaras dengan filosofi dan konsep-konsep yang mendasarinya.

B.     Saran
Dalam pelaksanaan pendidikan inklusif ada beberapa permasalahn dan kendala yang dihadapi dalam implementasinya. Untuk itu diperlukan  komitmen tinggi dan kerja keras melalui kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat untuk mengatasinya. Dengan demikian, tujuan akhir dari semua upaya di atas yaitu kesejahteraan para penyandang cacat dalam  memperoleh segala haknya sebagai warga Negara dapat direalisasikan secara cepat dan maksimal.




DAFTAR PUSTAKA

Abdul salim choiri munawir yusuf. 2009. Pendidikan Anak Nerkebutuhan Khusus Secara Inklusif. FKIP .UNS
Ishartiwi. 2010. Implementasi Pendidikan Inklusif Bagi Anak Berkebutuhan Khusu. Dalam Sistem Pendidikan Nasional. Diunduh dari http://adgi.or.id/wpcontent/uploads/2011/10/IMPLEMENTASI_PENDIDIKAN_INKLUSIF_BAGI_ANAK_BERKEBUTUHAN_KHUSUS.pdf diakses pada 13 Juni 2012
Sunaryo. 2009. Manajemen Pendidikan Inklusif. Diunduh dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195607221985031-SUNARYO/Makalah_Inklusi.pdf diakses pada 5 Juni 2012.
Suparno. 2008. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.





KATA PENGANTAR

  Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , atas segala nikmat, taufik, dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah permasalahan-permasalahan dalam implementasi pendidikan inklusi  ini dapat berjalan dengan baik.
Makalah ini disusun guna pemenuhan tugas mata kuliah Pendidikan Inklusi. Dengan terwujudnya makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Baik berupa usulan, pendapat, kritikan, dan lain-lainnya.
Mudah-mudah dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat luas. Tapi dari semua manfaat yang ada dalam makalah ini. Tetap saja makalah ini mempunyai banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami mengharap adanya masukan dan saran yang relevan untuk penyempurnaan makalah ini.

Kebumen,   Juni 2012



DAFTAR ISI
 

Halaman Judul ...............................................................................................     i
Kata Pengantar ..............................................................................................     ii
Daftar Isi .......................................................................................................    iii
BAB I      PENDAHULUAN .......................................................................     1
A.    Latar Belakang .........................................................................     1
B.     Rumusan Masalah ....................................................................     2
C.     Tujuan Pembelajaran ................................................................     2
BAB II    PEMBAHASAN ..........................................................................     3
A.    Keberadaan Pendidikan Inklusif Dalam Konteks ...................
Pendidikan Nasional.................................................................     3
B.     Permasalah dalam Implementasi Pendidikan Inklusuf ............     4
C.     Kondisi Lapangan Pendidikan Inklusif ...................................     6
BAB III   PENUTUP ....................................................................................     7
A.    Kesimpulan ..............................................................................     7
B.     Saran ........................................................................................     7
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................     8



0 komentar:

Poskan Komentar