Senin, 09 Juni 2014

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BARU MANAJEMEN KELAS, MANAJEMEN KELAS BERBASIS IT, DAN PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan hal yang penting bagi suatu negara untuk menjadi negara maju, kuat, makmur dan sejahtera. upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa terpisah dengan masalah pendidikan bangsa. Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru melaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.

Pengelolaan kelas diperlukan untuk menjadikan pembelajaran yang berkualitas karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya di masa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.
Untuk mewujudkan kualitas pembelajaran, perlu ditempuh upaya-upaya yang bersifat komprehensif terhadap kemampuan guru dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Namun demikian, berdasarkan isu yang berkembang dalam pendidikan, pembelajaran di sekolah/lembaga pendidikan belum berjalan secara efektif, bahkan banyak guru yang mengajar tanpa memanfaatkan sumber belajar. mereka mengajar secara rutin apa adanya sehingga pembelajaran berkesan teacher centris. Berdasar rumusan masalah tersebut penulis membuat makalh yang berjudul “Pemikiran-Pemikiran Baru Managemen Kelas, Managemen Kelas Berbasis IT, Dan Pendidikan Berbasis Masyarakat”

B.  Rumusan Masalah
1.        Apa saja penemuan-penemuan baru managemen kelas?
2.        Bagaimanakah managemen kelas yang berbasis IT?
3.        Bagaimanakah pendidikan berbasis masyarakat?
C.  Tujuan Penulisan
1.        Untuk menjelaskan penemuan-penemuan baru manajemen kelas.
2.        Untuk menjelaskan manajemen kelas berbasis IT.
3.         Untuk menjelaskan pendidikan berbasis masyarakat.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pemikiran- pemikiran Baru Manajemen Kelas
Kinerja manajemen kelas yang efektif, antara lain tercermin dalam bentuk keberhasilan guru dalam mengkreasikan lingkungan belajar secara positif (creating positive learning environment) dan memberdayakan siswa (empowering students ) untuk memahami dan menjadi efektif dalam melibatkan diri pada proses pengelolaan kelas dan proses pembelajaran. Adalah realitas bahwa masalah serius yang terjadi di sekolah- sekolah saat ini, besar atau kecil, disebabkan oleh masalah-masalah manajemen, khususnya manajemen kelas, yang belum mampu merespon tuntutan untuk menjadikan manusia secara selayaknya (human being) atau ingin menciptakan proses pembelajaran pada tingkat kinerja yang diinginkan. Sosok ideal ini memang tidak menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya, melainkan juga tanggung jawab kepala sekolah, special educator, pelatih, ahli psikologi, bahkan peneliti.
Ringkasnya, esensi dan ekstensi manajemen kelas dalam memanfaatkan proses pembelajaran yang kondusif tidak lagi didudukkan pada posisi sekunder, melainkan menjadi pemeran utama. Pemikiran ini menuntut adanya cara dan metode baru bagi guru untuk mengelola kelasnya secara efektif dan inovatif. Hasil penelitian yang relatif kontemporer mengenai manajemen kelas merekomendasikan beberapa metode inovatif atau orientasi baru yang menjadi fokus kerja manajemen kelas. Beberapa di antaranya meliputi berikut ini.
1.        Perhatian yang lebih besar pada aspek pendidikan multikultural dan isu- isu gender (persamaan hak antara perempuan dan laki- laki).
2.        Pengembangan fokus ke arah pencerahan kebutuhan siswa, gaya belajar, kultur pembelajaran, dan metode pengelolaan perilaku yang digunakan di kelas.
3.        Pengembangan fokus ke arah keterlibatan siswa secara aktif dalam memahami dan mengambil tanggung jawab bagi lingkungan belajarnya untuk mendemonstrasikan perilaku positif.
4.        Pengembangan studi kasus mengenai bagaimana menciptakan sosok manajemen kelas yang efektif atau bagaimana menimba pengalaman dari manajemen kelas yang baik yang pernah ditampilkan.
5.        Perluasan rencana- rencana baru dalam kerangka membangun manajemen yang efektif, serta penentuan strategi proses dan metode yang akurat untuk mengimplementasikannya.
6.        Gagasan- gagasan baru mengenai cara guru bekerja untuk memecahkan masalah- masalah keprilakuan khusus yang dialami oleh siswa dalam keseluruhan mainstreams kehidupan untuk dimanipulasi menjadi potensi kondusif di dalam dan di lingkungan kelas.

B.  Manajemen Kelas dalam Rangka Pembelajaran Berbasis IT
1.        Pengertian IT ( Information Technologi )
Informasi diartikan sebagai hasil pengolahan data yang digunakan untuk suatu keperluan, sehingga penerimanya akan mendapat rangsangan untuk melakukan tindakan. Technologi adalah hasil rekayasa manusia yang berupa seperangkat alat yang membantu manusia dalam bekerja. Jadi IT ( Information Technologi ) dapat diartikan seperangkat alat yang membantu dalam bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informal dan proses penyampaian informasi dari bagian pengirim ke penerima pun akan lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya.
IT ( Information Technologi ) tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memroses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Teknologi yang menggabungkan komputasi (computer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara dan video. Jadi menurut kesimpulan teknologi informasi adalah gabungan antara teknologi komputer dengan teknologi komunikasi. IT ( Information Technologi ) berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran data/ informasi tersebut dalam batas–batas ruang dan waktu. Teknologi informasi merupakan pengembangan dari teknologi komputer dipadukan dengan teknologi telekomunikasi.
2.        Pembelajaran Berbasis IT
Teknologi dalam pendidikan adalah salah satu aspek yang sangat penting dari teknologi pendidikan. Secara historis, banyak perguruan tinggi yang secara evolusif mengembangkan unit radio visualnya menjadi unit teknologi pendidikan. Dengan cara melakukan pemilihan yang tepat terhadap hardware dan software yang digunakan, sangat memungkinkan untuk meningkatkan efisiensi atau kualisas belajar  dalam situasi tertentu. Inilah cikal-bakal dari pengembangan teknologi pendidikan seperti yang akan kita lihat nantinya.
Salah satu tahap yang paling awal dalam evolusi Teknologi Pendidikan adalah yang disebut tahap hardware. Disebut demikian karena tugas berat dalam pengembangan peralatan pendidikan yang efektif telah dilakukannya secara layak dalam menyakinkan, memungkinkan untuk terlayani dan terjangkau oleh anggaran sekolah, universitas dan para penyelenggara latihan. Akan tetapi, apabila pada suatu saat hardware tersebut telah mensyaratkan maka akan dicarikan software yang kira-kira cocok. Tahap inilah yang disebut sebagai tahap software di mana perhatian khusus terhadap pengembangan bahan belajar tertentu yang sesuai dilakukan. Pengembangan ini didasarkan pada penyesuaian persepsi dan teori belajar kontemporer. Dengan demikian pada awal pengembangan teknologi pendidikan, kita dapat mengidentifikasikan perubahan dalam pengertian istilah teknologi.
Semula pengertian tersebut jelas mempunyai konotasi perekayasaan (engineering). Karena pengertian dasar dari teknologi pendidikan berhubungan dengan pengembangan benda-benda optik dan dan peralatan elektronika yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Setelah itu teknologi dalam pendidikan lebih banyak berhubungan dan bercampur baur dengan psikologi dan teori belajar sebagai tujuan utama. Dengan demikian pengertian dasar tersebut berubah menjadi pengembangan software yang sesuai untuk digunakan dengan hardware tersebut, akan tetapi, pada tahap pengembangan teknologi pendidikan ini, orang mulai sadar bahwa dalam pendidikan dan latihan banyak yang dapat ditingkatkan dengan pemikiran yang lebih serius dan hati-hati tentang berbagai aspek dalam merancang situasi belajar mengajar. Keputusan seperti itu mengarah ke interprestasi baru, tentang teknologi pendidikan, yang diartikan sebagai keseluruhan teknologi dari pendidikan. Jadi teknologi pendidikan bukan hanya sekedar penggunaan teknologi dalam pendidikan, dimana teknologi tersebut sesungguhnya hanya merupakan bagian teknologi dari pendidikan.
Komputer merupakan jenis media yang secara virtual dapat menyediakan respon yang segera terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh siswa. Lebih dari itu, komputer memiliki kemampuan menyimpan dan memanipulasi informasi sesuai dengan kebutuhan. Perkembangan teknologi yang pesat saat ini telah memungkinkan komputer memuat dan menayangkan beragam bentuk media di dalamnya.
Saat ini teknologi komputer tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana komputasi dan pengolahan kata (word processor) tetapi juga sebagai sarana belajar multi media yang memungkinkan peserta didik membuat desain dan rekayasa suatu konsep dan ilmu pengetahuan. Sajian multimedia berbasis komputer dapat diartikan sebagai teknologi yang mengoptimalkan peran komputer sebagai sarana untuk menampilkan dan merekayasa teks, grafik, dan suara dalam sebuah tampilan yang terintegrasi. Dengan tampilan yang dapat mengkombinasikan berbagai unsur penyampaian informasi dan pesan, komputer dapat dirancang dan digunakan sebagai media teknologi yang efektif untuk mempelajari dan mengajarkan materi pembelajaran yang relevan misalnya rancangan grafis dan animasi.
Multimedia berbasis komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana dalam melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu. Misalnya, penggunaan simulator kokpit pesawat terbang yang memungkinkan peserta didik dalam akademi penerbangan dapat berlatih tanpa menghadapi risiko jatuh. Contoh lain dari penggunaan multimedia berbasis komputer adalah tampilan multimedia dalam bentuk animasi yang memungkinkan mahasiswa pada jurusan eksakta, biologi, kimia, dan fisika melakukan percobaan tanpa harus berada di laboratorium.
Perkembangan teknologi komputer saat ini telah membentuk suatu jaringan (network) yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas. Jaringan komputer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan terkini dalam bidang akademik tertentu. Diskusi dan interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.
Penggunaan internet dan web tidak hanya dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap kegiatan akademik siswa tapi juga bagi guru. Internet dan web dapat memberi kemungkinan bagi guru untuk menggali informasi dan ilmu pengetahuan dalam mata pelajaran yang menjadi bidang ampuannya. Melalui penggunaan internet dan web, guru akan selalu siap mengajarkan ilmu pengetahuan yang mutakhir kepada siswa. Hal ini tentu saja menuntut kemampuan guru itu sendiri untuk selalu giat mengakses website dalam bidang yang menjadi keahliannya.
Media dalam pembelajaran memiliki fungsi sebagai alat bantu untuk memperjelas pesan yang disampaikan guru. Media juga berfungsi untuk pembelajaran individual dimana kedudukan media sepenuhnya melayani kebutuhan belajar siswa (pola bermedia).
Jenis kegiatan/ tugas guru yang dapat dilaksanakan dengan menggunakan ruang multimedia antara lain:
a.    Presentasi Power Point
Menyampaiakan materi (presentasi) merupakan salah satu bentuk tugas yang paling sederhana yang dapat dilakukan adalah menyampaikan materi pelajaran menggunakan madia komputer/ laptop dan LCD. Materi disampaikan kepada siswa dengan menayangkan materi pada layar dan siswa dapat mengikuti pembelajaran bersama- sama. Ketrampilan dapat dikembangkan lagi dengan menggunakan program Windows Movie Maker, Ulead VideoStudio, dan lain- lain. Hendaknya seorang guru paling tidak mempunyai kemampuan untuk membuat materi ajar dalam bentuk presentasi Power Point.
b.    Memutar video dan lagu/musik yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang disela-sela kegiatan belajar siswa, misalnya saat siswa mengakses materi pelajaran melalui internet.
1)   Video Pembelajaran
Prinsipnya adalah, CD pembelajaran itu nanti berupa video hasil rekaman aktifitas pembelajaran yang direkam dan ditampilkan dalam bentuk video. Karena bentuknya video, maka dia akan mengalir seperti orang nonton film. Tidak ada fasilitas interlinking dalam film tadi. Bahan video bisa berasal dari rekaman anda yang seolah-olah sedang mengajar di lab, sedang mengerjakan workshop, rekaman desktop dengan Camtasia, atau bisa juga mencari dari situs-situs social video hosting seperti youtube.com, teacherstube.com, metacafe.com, dan sebagainya. Kemudian, potongan-potongan video diolah dengan perangkat lunak video editting (misalnya ULead Video Editor), ditambahi elemen text, diberikan efek-efek, dan juga perlu diberikan dubbing suara guru. Perangkat yang dibutuhkan diantaranya kamera digital dan handycam.
2)   CD Media Ajar Berbasis HTML
Ketika kita membeli majalah-majalah komputer, sering kali kita mendapatkan CD yang begitu kita masukkan ke dalam CD ROM, dia langsung nge-load internet browser dan menampilkan menu dan konten CD tersebut. Nah,..  idenya adalah seperti itu. Bahasa HTML adalah bahasa yang biasanya dipergunakan dalam menampilkan halaman web. Halaman HTML dapat dibuat dengan mudah dibuat. Tentunya, akan sangat tergantung kepada yang bersangkutan dalam membuat tampilan. Setiap topik atau bahasan yang berhubungan dapat dengan mudah dihubungkan dengan link (hyperlink). Sama persis dengan halaman web, namun sekarang kita buat dalam bentuk CD. Caranyapun sangat mudah, kumpulkan semua materi kerja dalam satu folder. Seluruh folder ini harus tercopy ke dalam CD dengan letak file dan struktur folder yang sama persis dengan saat pembuatan. Jangan lupa mengemas CD tersebut dalam bentuk autorun CD. Caranya pun juga sangat mudah, cukup dengan menambahkan file ‘autorun.inf’, definisikan file inisiasi yang akan dibuka dengan file tersebut.
3)   Multimedia Pembelajaran Interaktif
Ini mungkin yang paling sulit, namun demikian hasilnya juga bisa sangat memuaskan. Software yang dipergunakan misalnya Macromedia Flash, Authorware, dsb. Elemen-elemen gambar dan audio video bisa tetap digabungkan didalamnya. Animasi bisa dibuat dengan baik. Interactivitas bisa dibuat dengan action script. CD CD pembelajaran untuk anak-anak yang sekarang bisa kita peroleh di toko buku adalah contoh jenis media ajar jenis ini.
a)    Menampilkan gambar yang berkaitan dengan materi pembelajaran
b)   Mengirim informasi/pesan dari guru (komputer server) ke siswa (computer client)
c)    Mengirim tugas/ulangan kepada siswa dan mengumpulkannya kembali   melalui komputer server
d)   Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengakses materi melalui Internet
e)    Menggunakan ruang ini sebagai laborarotorium bahasa karena di dalamnya terdapat headphone yang disambungkan dengan tiap computer dan bisa mendengar suara guru dari computer server
3.        Sistem Pembelajaran Berbasis IT
Sistem pembelajaran berbasis IT menggunakan berbagai metode pembelajaran, antara lain yaitu:
a.    Metode Klasikal
Metode klasikal, yaitu penggunaan media komputer dengan sebuah media tayang lebar. Untuk metode ini dapat digunakan  peralatan:
1)   unit komputer + multimedia proyektor (LCD Proyektor), atau
2)   1 unit komputer + televisi
b.    Metode Kelompok
Metode kelompok, metode ini dapat diterapkan pada kelas dengan  sejumlah kecil komputer. Sebuah komputer digunakan untuk beberapa siswa. Cara ini memungkinkan siswa untuk saling berdiskusi.
c.    Metode Individual/Mandiri
Metode individual, yaitu satu orang siswa dengan  sebuah komputer. Metode ini dapat digunakan untuk sekolah yang memiliki banyak komputer (laboratorium). Siswa juga dapat mengcopy software untuk digunakan di rumah sebagai bahan remedial. Siswa dapat menggunakan media internet di luar jam sekolah, untuk menerima/kirim tugas, mencari bahan dari luar sekolah.
4.        Beberapa Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pengembangan Pembelajaran dan Manajemen Sekolah yang dapat Dikembangkan di Sekolah Dasar antara lain:
a.    Pembelajaran Berbasis Komputer
Pembelajaran berbasis komputer, yaitu penggunaan komputer sebagai alat bantu dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Penggunaan komputer secara langsung dengan peserta didik untuk menyampaikan isi pelajaran, memberikan latihan dan mengevaluasi kemajuan belajar peserta didik. Materi pembelajaran dibuat dalam bentuk power point atau CD pembelajaran interaktif.
Pembelajaran berbasis komputer merupakan program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan software komputer (CD pembelajaran) berupa program komputer yang berisi tentang judul, tujuan, materi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.
Robert Heinich, Molenda, dan James D. Russel (1985:226) menyatakan bahwa sistem computer dapat menyampaikkan pembelajaran secara individual dan langsung kepada para peserta didik dengan cara berinteraksi dengan mata pelajaran yang diprogramkan ke dalam sistem computer, inilah yang disebut dengan Pembelajaran Berbasis Komputer.
b.    Blended E- Learning
Blended E-Learning adalah pembelajaran terintegrasi/terpadu dengan menggunakan jaringan internet (Network), intranet (LAN), atau extranet (WAN) – sebagai pengantar materi, interaksi atau fasilitas. Blended e-learning disebut juga online learning. Pada pembelajaran model ini pembelajaran dapat disajikan dalam beberapa format (Wulf, 1996), diantaranya adalah: 1) E-mail (pengajar dan peserta didik berinteraksi dalam pembelajaran dengan menggunakan fasilitas e-mail), 2) Mailing list/grup diskusi, bisa menggunakan fasilitas email atau fasilitas jejaring social seperti facebook atau twiter, 3) Mengunggah bahan ajar dari internet, peserta didik dapat mencari bahan ajar melalui internet untuk menambah pengetahuan tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari. 4) Pembelajaran interaktif melalui web/blog, 5) interactive conferencing, berupa pembelajaran langsung jarak jauh.
c.    Pembelajaran Berbasis Web
Sekolah harus menyediakan/membuat website sekolah yang diantaranya berisi materi-materi pelajaran. Setiap pengajar harus memiliki blog sendiri yang berisi materi pelajaran yang diajarkan, bisa berkomunikasi tentang materi pelajaran dengan peserta didik di dunia maya, dengan demikian akan tercipta virtual class room (kelas dunia maya) yang dapat memotivasi dan menambah wawasan pengetahuan peserta didik.
d.   Penilaian Berbasis TIK
Penilaian hasil belajar peserta didik memerlukan pengolahan dan analisis yang akurat, obyektif, transparan, dan integral agar bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu perlu dikembangkan penilaian berbasis komputer yang bisa diakses oleh peserta didik, pengajar, dan orang tua.
e.    Perpustakaan Digital
Sumber belajar pokok bagi peserta didik adalah buku-buku pelajaran dan buku-buku referensi yang lengkap. Buku-buku tersebut ada di perpustakaan sekolah. Semakin banyaknya buku dan banyaknya peserta didik yang memanfaatkan perpustakaan membutuhkan manajemen perpustakaan yang baik. Salah satu strategi pelayanan perpustakaan berbasis komputer adalah perpustakaan digital.
f.     Aplikasi Data Base Sekolah
Data adalah sumber informasi bagi suatu lembaga yang dapat dimanfaatkan sebagai laporan hasil kinerja, bahan evaluasi, dan bahan penyusunan program. Data sekolah harus valid, akurat, dan tersimpan dalam arsip/dokumen untuk dapat dipergunakan sewaktu-waktu.
5.        Program Strategis Pengembangan IT di Sekolah Dasar
No.
Program Pengembangan TIK
Kegiatan
1.
Pengembangan Blended E-Learning
1.      Optimalisasi pemberian tugas berstruktur dan tidak berstruktur melalui internet
2.      Optimalisasi tugas non-test melalui internet
3.      Pendalaman bahan ajar bagi peserta didik melalui internet
2.
Pembelajaran Berbasis Web
1.      Workshop membuatan web/blog bagi pengajar dan TU
2.      Update materi pelajaran dalam blog
3.      Diskusi interaktif melalui blog pengajar
3.
Penilaian Berbasis TIK
1.      Pelatihan/workshop penilaian berbasis TIK
2.      Menyusun data base hasil belajar peserta didik

4.
Perpustakaan Digital
1.      Pengadaan alat/sarana melalui pengajuan bantuan ke dinas pend kab/prov/pusat
2.      Menyiapkan 5 unit PC yang berisi bahan ajar di perpustakaan
5.
Aplikasi Data Base Sekolah
1.      Pelatihan pegawai TU
2.      Pembuatan data base sekolah
3.       

6.        Dampak Penerapan Pembelajaran Berbasis IT di Sekolah Dasar
Penerapan IT dalam pembelajaran di sekolah dasar memliki dampak yang besar terhadap perkembangan siswa. Seperti halnya tujuan utama dari pembelajaran berbasis IT sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penerapan IT juga memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai dampak dari penggunaan IT dalam proses pembelajaran.
Adapun beberapa kelebihan penerapaan pembelajaran berbasis IT di sekolah dasar yang merupakan dampak positif penerapaan pembelajaran berbasis IT antara lain :
a.    Menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan mengasyikan (efek emosi)
b.    Siswa akan menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran
c.    Membekali kecakapan siswa untuk menggunakan teknologi tinggi
d.   Mendorong lingkungan belajar konstruktivisme
e.    Mendorong lahirnya pribadi kreatif dan mandiri pada diri siswa
f.     Meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa
g.    Membantu siswa yang memiliki kecepatan belajar lambat
Selain memliki kelebihan, penerapan IT juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu diantaranya :
a.    Penerapannya membutuhkan biaya yang relatif besar.
b.    Rentan terhadap penyalahgunaan fungsi.
c.    Guru dalam dalam penerapan IT  dituntut memiliki keahlian tinggi.
d.   Sulit diterapkan di sekolah yang kurang maju yang pada umumnya terdapat di pedesaan.
7.        Faktor- faktor yang mempengaruhi dalam pemanfaatan IT di Sekolah Dasar
Penerapan pembelajaran berbasis IT merupakan kegiatan yang mencakup semua komponen sekolah, baik itu dari sekolah maupun dari diri individu setiap siswa. Tercapainya tujuan pembelajaran berbasis IT ini memerlukan kerja sama antara semua komponen sekolah. Adapun beberapa faktor penting yang mempengaruhi pembelajaran berbasis IT di sekolah dasar yaitu :
a.    Kemampuan Sekolah
Salah satu unsur yang menyebabkan IT digunakan secara maksimal adalah dengan adanya fasilitas komputer yang memadai. Memang bila kita melihat sekolah-sekolah elit di kota besar, kita akan menemukan sekolah yang mempunyai sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap, misalnya komputer. Tetapi untuk sekolah-sekolah di daerah pinggiran kota atau kepulauan, kita akan sulit menemukan sarana dan prasarana yang lengkap terutama komputer (tentunya yang layak dan memadai untuk sebuah proses pembelajaran).
Selama ini pemerintah memang memberikan komputer kepada sebagian sekolah, tetapi untuk sekolah yang tidak kebagian harus berusaha sendiri untuk membeli komputer. Bagi sekolah elite, mungkin sangat mudah, tetapi bagi sekolah yang untuk merenovasi sekolahnya saja masih pontang-panting mencari dana apalagi untuk membeli komputer itu akan sangat memberatkan. Termasuk sekolah-sekolah swasta di daerah dan pinggiran termasuk di kepulauan yang masih tertatih-tatih untuk menghidupi dirinya. Sedangkan komputer merupakan sarana utama agar pemanfaatan IT berjalan maksimal.
b.    Kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM)
Kunci utama agar pemanfaatan IT berjalan maksimal adalah guru. Untuk itu diperlukan guru yang profesional. Sedangkan dalam kenyataannya tidak semua guru lulusan program sarjana adalah tenaga pendidik yang profesional dalam menggunakan peralatan seperti komputer. Hal ini juga akan menjadi hambatan yang cukup serius mengingat yang menjadi kunci utamanya adalah guru dalam pemanfaatan IT. Ketika guru-guru yang ada sudah tidak mampu, maka pemanfaatan IT ini hanya akan menjadi wacana yang terus berkembang dan hanya mengambang tanpa ada perwujudan dalam kenyataan.
c.    Lingkungan Sosial
Perkembangan dan proses belajar seseorang tidak dapat terjadi tanpa kehadiran pengaruh lingkungan (masyarakat). Begitu juga dengan pemanfaatan IT tidak akan maksimal tanpa didukung oleh lingkungan. Di lingkungan kota-kota besar, sangat mudah untuk mencari perangkat IT sehingga pemanfaatan IT akan maksimal. Termasuk ketika memberikan tugas yang harus mengakses internet, misalnya, akan lebih mudah dilakukan. Akan tetapi untuk kasus sekolah-sekolah yang ada di kepulauan, misalnya, yang listrik saja harus hidup di malam hari, tidak terjangkau provider sehingga internet tidak bisa diakses, maka pemanfaatan IT akan kurang maksimal walaupun di sekolah itu mempunyai sarana komputer lengkap.
Jadi sangat jelas bahwa lingkungan sebagai proses motivasi sosial yang memegang peranan dalam merangsang setiap individu untuk mencapai prestasi sosial sebagaimana proses-proses motivasi akademik akan mempengaruhi prestasi akademik. Bila lingkungan tidak mendukung, maka akan sangat sulit bagi siswa untuk mencapai kesuksesan.
C.  Pendidikan Berbasis Masyarakat
1.        Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip demokrasi “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subjek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Sedangkan pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik didalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
Menurut Michael W. Galbraith (Di unduh dari http://jumatinsus.blogspot.com/2010/03/desain-pembelajaran-berbasis-masyarakat.html. Pada tanggal 18 Desember 2012), community-based education could be defined as an seducational process by which individuals (in this case adults) become more competent in their skills, attitudes, and concepts of their communities through democratic participation. Artinya, pendidikan berbasis masyarakat dapat diartikan sebagai proses pendidikan dimana individu atau orang dewasa menjadi lebih berkompeten menangani keterampilan, sikap dan konsep mereka dalam hidup didalam dan mengontrol aspek-aspek lokal dari masyarakatnya melalui partisipasi demokratis.
Pendidikan berbasis masyarakat biasanya mengarah pada isu-isu masyarakat yang khusus seperti pelatihan kerja, konsumerisme, perhatian terhadap lingkungan, pendidikan dasar, budaya dan sejarah etnis, kebijakan pemerintah, pendidikan politik dan kewarganegaraan, pendidikan keagamaan, penanganan masalah kesehatan. Sementara lembaga yang memberikan pendidikan kemasyarakatan bisa dari kalangan bisnis dan industri, lembaga-lembaga berbasis masyarakat, perhimpunan petani, organisasi kesehatan, organisasi pelayanan kemanusiaan, organisasi buruh, perpustakaan, museum, organisasi persaudaraan sosial, lembaga-lembaga keagamaan, dan lain-lain. Jadi munculnya pendidikan berbasis kompetensi didorong oleh kebutuhan belajar keterampilan-keterampilan dan pengetahuan baru dalam rangka mengatasi berbagai masalah sosial yang ada.
Pendapat lebih luas tentang pendidikan berbasis masyarakat dikemukakan oleh Mark K. Smith sebagai berikut :
……. as a process designed to enrich the lives of individuals and groups by engaging with people living within a geographical area, or sharing a common interest, to develop voluntarily a range of learning, action, and reflection opportunities, determined by their personal, sosial, economic and political need.
Artinya : pendidikan berbasis masyarakat adalah sebuah proses yang didesain untuk memperkaya kehidupan individual dan kelompok dengan mengikutsertakan orang-orang dalam wilayah geografi, atau berbagai mengenai kepentingan umum, untuk mengembangkan dengan sukarela tempat pembelajaran, tindakan, dan kesempatan refleksi yang ditentukan oleh pribadi, sosial, ekonomi dan kebutuhan politik mereka.
Dari sini dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada ditangan masyarakat. Jika masyarakat memiliki otoritas dalam mengambil keputusan dan menentukan tujuan pendidikan, sasaran, pembiayaan, kurikulum, standar dan ujian, kualifikasi guru, persyaratan siswa, tempat penyelenggara dan lain-lain berarti program pendidikan tersebut berbasis masyarakat. Sebaliknya, jika semuanya ditentukan oleh pemerintah, maka disebut pendidikan berbasis pemerintah (state-based education). Atau, jika semuanya ditentukan oleh sekolah, maka disebut pendidikan berbasis sekolah (school-based education).
Atas dasar itu, secara prinsip pendidikan berbasis masyarakat adalah pendidikan yang dirancang, diatur, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha untuk menjawab tantangan dan peluang yang ada dengan berorientasi pada masa depan serta memanfaatkan kemajuan teknologi. Jenis pendidikan yang dikembangkan atas inisiatif warga masyarakat untuk menjawab problema hidupnya, dikelola secara mandiri dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki masyarakat serta menekankan pentingnya partisipasi setiap warga pada setiap kegiatan belajar. Oleh karena itu, pendidikan berbasis masyarakat pada dasarnya dirancang oleh masyarakat untuk membelajarkan mereka sendiri sehingga lebih berdaya, dalam arti memiliki kekuatan untuk membangun dirinya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya.
Model pendidikan berbasis masyarakat untuk konteks kita, semakin diakui keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Keberadaan lembaga ini diatur pada pasal 26 ayat (1-7). Hanya saja UU ini tidak menggunakan istilah pendidikan berbasis masyarakat, tapi menggunakan istilah pendidikan non-formal. Lebih lanjut disebutkan, pendidikan non formal diselenggarakan oleh warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan dan berfungsi sebagai pengganti, penambah dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian fungsional. Pendidikan non-formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan keaksaraan, lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan masyarakat, satuan pendidikan yang sejenis, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Dengan berpijak pada UU Sisdiknas itu, pendidikan berbasis masyarakat pada konteks kita menunjuk pada pengertian yang bervatiaf, antara lain mencakup: (a) pendidikan luar sekolah yang diberikan oleh organisasi akar rumput (grassroot organization) seperti pesantren dan LSM; (b) pendidikan yang diberikan oleh sekolah swasta atau yayasan; (c) pendidikan dan pelatihan yang diberikan oleh pusat pelatihan milik swasta; (d) pendidikan luar sekolah yang disediakan oleh pemerintah; (e) pusat kegiatan belajar masyarakat; dan (f) pengambilan keputusan yang berbasis masyarakat.
Dengan demikian, pendidikan berbasis masyarakat merupakan sebuah proses dan program. Secara esensial, pendidikan berbasis masyarakat adalah munculnya kesadaran tentang bagaimana hubungan-hubungan sosial bisa membantu pengembangan interaksi sosial yang membangkitkan concern terhadap pembelajaran, sosial, politik lingkungan, ekonomi dan faktor-faktor lain. Sementara pendidikan berbasis masyarakat sebagai program harus berlandaskan pada keyakinan dasar bahwa partisipasi aktif dari warga masyarakat adalah hal yang pokok.
2.        Perspektif Desain Kurikulum Yang Berorientasi Pada Masyarakat
Ada 3 perspektif desain kurikulum yang berorientasi pada kehidupan masyarakat:
a.    Perspektive status Quo (the status quo perspective), kurikulum merupakan perencanaan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik sebagai persiapan menjadi orang dewasa yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat.
b.    Perspektive reformis (the reformist perspective), Kurikulum dikembangkan untuk lebih meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri, Kurikulum reformis menghendaki peran serta masyarakat secara total dalam proses pendidikan, Harus berperan untuk mengubah tatanan social masyarakat, Menurut pandangan reformis, dalam proses pembangunan pendidika sering digunakan untuk menindas masyarakat miskin untuk kepentingan elit, Pendidikan harus mampu mengubah keadaan masyarakat itu, baik pendidikan formal maupun non formal harus mengabdikan diri demi tercapainya orde social baru. (Tokoh yang mempelopori adalah Paulo freire dan ivan illich).
c.    Perspektive masa depan (the futulist perspective), merupakan Menekankan kepada proses mengembangkan hubungan antara kurikulum dan kehidupan social, politik, ekonomi masyarakat. Menurut Harold Rug (1920-1930) siswa harus memahami berbagai macam persoalan dimasyarakat. Tujuan kurikulum dalam perspektif ini mempertemukan siswa dengan masalah masalah yang dihadapi umat manusia.
3.        Prinsip-Prinsip Pendidikan Berbasis Masyarakat
Secara lebih luas Michael W. Galbraith menjelaskan bahwa pendidikan berbasis masyarakat memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :
a.    Self determination (menentukan sendiri)
Semua anggota masyarakat memiliki hak dan tanggungjawab untuk terlibat dalam menentukan kebutuhan masyarakat dan mengidentifikasi sumber-sumber masyarakat yang bisa digunakan untuk merumuskan kebutuhan tersebut.
b.    Self help (menolong diri sendiri)
Anggota masyarakat dilayani dengan baik ketika kemampuan mereka untuk menolong diri mereka sendiri telah didorong dan dikembangkan. Mereka menjadi bagian dari solusi dan membangujn kemandirian lebih baik bukan tergantung karena mereka beranggapan bahwa tanggung jawab adalah untuk kesejahteraan mereka sendiri.
c.    Leadership development (pengembangan kepemimpinan)
Para pemimpin lokal harus dilatih dalam berbagai keterampilan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan dan proses kelompok sebagai cara untuk menolong diri mereka sendiri secara terus menerus dan sebagai upaya mengembangkan masyarakat.
d.   Localization (lokasi)
Potensi terbesar untuk tingkat partisipasi masyarakat tinggi terjadi ketika masyarakat diberi kesempatan dalam pelayanan, program dan kesempatan terlibat dekat dengan kehidupan tempat masyarakat hidup.
e.    Integrated delivery of service (keterpaduan pemberian pelayanan);
     Adanya hubungan antara gengsi diantara masyarakat dan agen-agen yang menjalankan pelayanan publik dalam memenuhi tujuan dan pelayanan publik yang lebih baik.
f.     Reduce duplication of service (mengurangi dupliksi pelayanan)
Masyarakat seharusnya memanfaatkan secara penuh sumber-sumber fisik, keuangan dan sumber daya manusia dalam lokalitas mereka dan mengkoordinir usaha mereka tanpa duplikasi pelayanan.
g.    Accept diversity (menerima perbedaan)
Menghindari pemisahan masyarakat berdasarkan usia, pendapatan, kelas sosial, jenis kelamin, ras, etnis, agama atau keadaan yang menghalangi pengembangan masyarakat seluas mungkin dituntut dalam pengembangan, perencanaan dan pelaksanaan program, pelayanan dan aktifitas-aktifitas kemasyarakatan.
h.    Institutional responsiveness (tanggungjawab kelembagaan)
Pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat yang berubah secara terus menerus adalah sebuah kewajiban dari lembaga publik sejak mereka terbentuk untuk melayani masyarakat.
i.      Lifelong learning (pembelajaran seumur hidup).
Kesempatan pembelajaran formal dan informasi harus tersedia bagi anggota masyarakat untuk semua umur dalam berbagai jenis latar belakang masyarakat.
4.        Syarat-Syarat Pendidikan Berbasis Masyarakat
Untuk melaksanakan paradigma pendidikan berbasis masyarakat, setidak-tidaknya mempersyaratkan lima hal, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.    Teknologi yang digunakan hendaknya sesuai dengan kondisi dan situasi nyata yang ada dimasyarakat. Teknologi yang canggih yang diperkenalkan dan adakalanya dipaksakan sering berubah menjadi pengarbitan masyarakat yang akibatnya tidak digunakan sebab kehadiran teknologi ini bukan karena dibutuhkan, melainkan karena dipaksakan. Hal ini membuat masyarakat menjadi rapuh;
b.    Ada lembaga atau wadah yang statusnya jelas dimiliki atau dipinjam, dikelola, dan dikembangkan oleh masyarakat. Disini dituntut adanya partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan pendidikan luar sekolah;
c.    Program belajar yang akan dilakukan harus bernilai sosial atau harus bermakna bagi kehidupan peserta didik atau warga belajar. Oleh karena itu, perancangannya harus didasarkan pada potensi lingkungan dan berorientasi pasar, bukan berorientasi akademik semata;
d.   Program belajar harus menjadi milik masyarakat, bukan milik instansi pemerintah. Hal ini perlu ditekankan karena bercermin pada pengalaman selama ini bahwa lembaga pendidikan yang dimiliki oleh instansi pemerintah terbukti belum mampu membangkitka partisipasi masyarakat. Yang terjadi hanya pemaksaan program, karena semua program pendidikan dirancang oleh instansi yang bersangkutan; dan
e.    Aparat pendidikan luar sekolah tidak menangani sendiri programnya, namun bermitra dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan. Organisasi-organisasi kemasyarakatan ini yang menjadi pelaksana dan mitra masyarakat dalam memenuhi kebutuhan belajar mereka dan dalam berhubungan dengan sumber-sumber pendukung program.
5.        Pendidikan Dan Masyarakat
Ada tiga sifat penting pendidikan. Pertama, pendidikan mengandung nilai dan memberikan pertimbangan nilai. Hal itu disebabkan karena pendidikan diarahkan pada pengembangan pribadi anak agar sesuai dengan nilai-nilai yang ada dan diharapkan masyarakat. Karena tujuan pendidikan mengandung nilai, maka isi pendidikan harus memuat nilai. Proses pendidikannya juga harus bersifat membina dan mengembangkan nilai. Kedua, pendidikan diarahkan pada kehidupan dalam masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapi lebih pada menyiapkan anak untuk kehidupan pada masyarakat.generasi muda perlu mengenal dan memahami apa yang ada dalam masyarakat, memiliki kecakapan-kecakapan untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, baik sebagai warga maupun sebagai karyawan. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan berlangsung. Kehidupan masyarakat berpengaruh terhadap proses pendidikan, karena pendidikan sangat melekat dengan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan pendidikan membutuhkan dukungan dari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas, personalia, system social, budaya, politik, keamanan, dan lain-lain.
6.        Bagaimana Kurikulum, Masyarakat Dan Sekolah Masyarakat
a.    Kurikulum dan Masyarakat
Kurikulum sekolah banyak ditentukan oleh tanggapan orang tentang apakah sebenarnya fungsi sekolah bagi masyarakat. Pada satu pihak kita lihat sekolah sebagai lembaga yang harus mengawetkan kebudayaan. Apakah kebudayaan lama masih sesuai dengan keadaan sekarang? Apakah kebudayaan itu tidak dapat menghalangi kemajuan dan perkembangan rasa nasional yang kuat?. Akan tetapi, dilain pihak ada anggapan bahwa fungsi sekolah adalah memajukan masyarakat dan bertindak sebagai “agent of change”. Banyak yang pernah diharapkan dari sekolah. Ada masanya dengan pengajaran dapat dilenyapkan kemiskinan, kemelaratan, kejahatan dan macam-macam penyakit masyarakat lainnya.
Mengembangkan masyarakat hanya mungkin dengan mengembangkan individu. Demikian pula perkembangan dan kemajuan individu juga berarti kemajuan bagi masyarakat. Maka dalam pembinaan kurikulum tak mungkin kebutuhan individu dipisahkan dari kebutuhan masyarakat.
b.    Sekolah Masyarakat
Ciri-ciri sekolah masyarakat*, Menurut Olsen ciri-ciri Community School adalah sebagai berikut:
1)   Sekolah itu memperbaiki mutu kehidupan setempat pada saat sekarang ini. Berkat sekolah maka orang dalam masyarakat menjadi manusia yang lebih baik, jasmaniah, emosional, sosial dan material. Hubungan antar suku bertambah erat, penyakit menular berkurang dengan adanya usaha sekolah kearah itu. Sekolah ini mendidik anak menjadi manusia yang lebih baik dalam dunia yang lebih baik.
2)   Sekolah itu menggunakan masyarakat sebagai laboratorium tempat belajar. Belajar tidak hanya terbatas antara empat dinding kelas. Kalau kita ingin memupuk pengertian, minat dan keterampilan yang penting guna perbaikan kehidupan masyarakat, tak dapat tiada anak-anak harus diberi kesempatan sebanyak-banyaknya untuk mempelajari masyarakat berkat pengalaman langsung. Buku-buku bacaan memang penting, namun dianggap tidak memadai, sekolah membuka pintu untuk mengadakan hubungan timbal balik dengan masyarakat.
3)   Gedung sekolah itu menjadi pusat kegiatan masyarakat. Gedung sekolah dapat digunakan untuk pertemuan dan rapat-rapat, untuk perayaan-perayaan dilingkungan itu. Pemberantasan buta huruf, kursus-kursus bagi wanita, pertandingan, perlombaan dilakukan disekolah, karena sekolah itu kepunyaan bersama seluruh masyarakat.
4)   Sekolah itu mendasarkan kurikulum pada proses-proses dan problema-problema kehidupan dalam masyarakat. Inti kurikulum terdiri atas kebutuhan manusia dalam masyarakat sekarang dan masa depan. Dengan jalan ini terdapat hubungan erat antara pelajaran disekolah dengan tuntutan-tuntutan kehidupan masyarakat yang mengandung arti bagi murid dank arena itu lebih merangsang kegiatan anak untuk belajar.
5)   Sekolah itu mengikutsertakan orang tua dalam urusan-urusan sekolah. Sekolah bukan hanya urusan guru, tetapi juga termasuk tanggungjawab seluruh masyarakat. Mengenai hal-hal tertentu sering diadakan perundingan antara guru dengan orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat guna perbaikan sekolah.
6)   Sekolah itu turut mengkordinasikan masyarakat. Untuk memperbaiki taraf kehidupan dalam suatu masyarakat segala lembaga dan badan-badan dalam masyarakat harus bekerjasama, seperti dalam hal pemeliharaan kebersihan, keamanan, dan lain-lain. Dalam hal ini sekolah dapat menjalankan peranannya yang penting dengan bekerjasama semua tenaga yang ada didalamnya.
7)   Sekolah itu melaksanakan dan menyebarkan filsafat negara dalam segala hubungan antar manusia. Sekolah berperan tidak hanya sebagai wadah member penjelasan tentang filsafat negara, tetapi terlebih untuk dapat dipraktekan dalam kehidupan dan hubungannya dengan masyarakat.
7.        Masyarakat Sebagai Sumber Belajar
Pengajaran mencapai hasil sebaik-baiknya, apabila didasarkan atas interaksi antara siswa dengan sekitarnya. Apa yang dipelajari anak hendaknya hal-hal yang juga terdapat dalam masyarakat dan karena itu berguna bagi hidup anak sehari-hari. Karena itu sesungguhnya kurikulum tidak dapat lepas dari masyarakat. Untuk menentukan kurikulum sendiri dengan menyesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat, maka perlu adanya penyelidikan sebelumnya, antara lain :
a.    Keadaan fisis lingkungan, yang mempengaruhi corak kehidupan dan kebudayaan masyarakat itu, yaitu: Iklim suatu daerah, Luas daerah, Topografi daerah, Keadaan tanah dan Kekayaan alam.
b.    Penduduk, diantaranya tentang : jumlah yang menghuninya, tingkat pendidikan dan susunan penduduknya.
c.    Organisasi-organisasi masyarakat.
Cara-cara menggunakan masyarakat dalam pelajaran.
a.    Karyawisata atau field trip
Siswa dapat dibawa ke luar kelas untuk mempelajari berbagai hal. Pelaksanaan karyawisata turut serta menjadikan masyarakat suatu laboratorium tempat anak-anak menagdakan penyelidikan dan belajar.
b.    Menggunakan orang sebagai sumber
Dalam tiap masyarakat betapapun kecilnya, pasti terdapat orang-orang yang memiliki keahlian, pengalaman, keacakapan atau pengetahuan tertentu, sehingga hal ini dapat diundang disekolah untuk memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu pokok yang ada hubungannya dengan pelajaran peserta didik, baik melalui seminar-seminar, lokakarya, symposium, pelatihan-pelatihan, dan lain-lain.
c.    Pengabdian masyarakat
Dari murid diharapkan, agar mereka tidak hanya memperhatikan dan mempelajari apa yang ada dan yang terjadi dalam masyarakat. Akan tetapi dalam pelbagai hal mereka harus turut serta dalam usaha-usaha perbaikan masyarakat sehingga anak-anak mendapat pengertian yang lebih mendalam tentang keadaan masyarakat itu.
d.    Pengalaman kerja dalam masyarakat
Cara lain untuk memanfaatkan masyarakat untuk kepentingan pendidikan para pemuda adalah memberi kepada mereka pengalaman-pengalaman bekerja disamping pelajaran disekolah. Tujuannya adalah menambah pengertian mereka tentang pekerjaan dan memupuk sikap yang sehat terhadap dunia pekerjaan. Dan hendaknya yang dipelajari sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.
Cara memanfaatkan masyarakat.
a.    Guru bersama-sama berusaha menyelidiki masyarakat itu dan mengumpulkan hal-hal yang kiranya dapat memperkaya kurikulum sekolah itu.
b.    Kepada orang tua murid dan kepada orang-orang lain dapat dikirimkan daftar pertanyaan dalam bidang manakah mereka dapat bertindak sebagai sumber atau mempunyai barang-barang atau alat-alat yang kiranya dapat dipergunakan untuk pendidikan anak didik.
c.    Dapat juga dikirimkan daftar pertanyaan kepada perusahaan-perusahaan, apakah mereka bersedia menerima siswa berkunjung kesana dengan tujuan pendidikan.
Untuk berperan sebagai kekuatan pendidikan nasional, sekaligus untuk memberikan sumbangan sebesar-besarnya kepada masyarakat, maka PBM harus bercirikan :
a.     Pola pengembangan yang melibatkan seluruh potensi di dalam masyarakat untuk turut bertanggungjawab mengenai mutu pendidikan setempat khususnya, mutu pendidikan nasional pada umumnya.
b.    Pola swadaya yang mengutamakan, pengelolaan sendiri pendidikan di dalam konteks masyarakat, meliputi antara lain :
1)   Penentuan prioritas program pendidikan yang khas.
2)   Penyediaan dana operasional dan infrastrutur.
3)   Pengadaan tenaga-tenaga yang kompeten.
4)   Pelaksanaan dan pemantauan secara menyeluruh.
5)   Penilaian dan peningkatan efisiensi dan efektifitas.




BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan   
·           Esensi dan ekstensi manajemen kelas dalam memanfaatkan proses pembelajaran yang kondusif tidak lagi didudukkan pada posisi sekunder, melainkan menjadi pemeran utama. Pemikiran ini menuntut adanya cara dan metode baru bagi guru untuk mengelola kelasnya secara efektif dan inovatif.
·           Teknologi dalam pendidikan adalah salah satu aspek yang sangat penting dari teknologi pendidikan karena sangat memungkinkan untuk meningkatkan efisiensi atau kualisas belajar. Perkembangan teknologi komputer saat ini telah membentuk suatu jaringan (network) yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi dengan sumber belajar secara luas. Jaringan komputer berupa internet dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan terkini dalam bidang akademik tertentu. Diskusi dan interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet dan web di sekolah.
·           Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip demokrasi “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subjek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Sedangkan pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik didalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.

B.       Saran
·           Pemikiran-pemikiran baru yang sudah ada sebaiknya segera direalisasikan, agar tercipta manajemen kelas yang sesuai dengan perkembangan zaman.
·           Pembelajaran berbasis IT yang diterapkan di Sekolah Dasar sebaiknya juga memperhatikan perkembangan anak, dan kompetensi guru dalam teknologi.
·           Pendidikan berbasis masyarakat sangatlah baik untuk perkembangan sekolah maupun masyarakat, jadi sebaiknya setiap sekolah mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat yang sesuai dengan potensi masyarakat setempat.

0 komentar:

Poskan Komentar