Selasa, 10 Juni 2014

Pembelajaran Kooperatif



BAB I
PENDAHULUAN

Pendidikan nasional yang  berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar  Negara  Republik Indonesia  Tahun  1945 berfungsi  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta  peradaban bangsa  yang  bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan  potensi peserta  didik agar menjadi manusia yang  beriman  dan bertakwa  kepada  Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,  dan menjadi warga  negara  yang  demokratis serta  bertanggung  jawab.  Untuk mengemban  fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu  system pendidikan nasional sebagaimana  tercantum  dalam Undang-Undang  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Sebagai pengajar, pada saat-saat tertentu guru pasti pernah berharap dengan sepenuh hati agar siswa segera dapat memiliki kemampuan yang spontan dan otomatis untuk merekam semua yang guru sampaikan. Baik itu perintah, prinsip-prinsip hidup bersama  dengan yang  lain maupun materi yang  guru  ajarkan. Jika ditelaah, guru  sering  kali  lebih banyak disibukkan dengan mengerjakan hal-hal yang  berkaitan dengan  .manajemen kelas yang  melelahkan dan tak  pernah kunjung  selesai, daripada  mengulang materi yang guru  ajarkan.  Sebagai guru sering kali guru harus terus waspada agar murid-murid tertentu dapat tetap tertib di kelas. Guru bahkan  harus terus mengawasi murid tertentu yang  terus  menerus diberitahu untuk  memperhatikan pelajaran, atau mewaspadai mereka yang perlu diberitahu untuk tetap tenang setelah jeda waktu tertentu. 
 
Banyak  guru mengatakan bahwa  mereka  merasa  lebih banyak menghabiskan waktu mengajarnya  untuk melakukan hal-hal yang  lain  selain mengajar. Kini, pembelajaran inovatif menawarkan beragam aktivitas yang dapat dikerjakan secara  kelompok atau individu  yang  memungkinkan guru untuk mencurahkan lebih banyak waktu untuk mengajar. Selain guru dapat menghemat energi, guru juga dapat membuat siswa dapat berkonsentrasi pada apa yang guru ajarkan.
Salah satu inovasi yang menarik mengiringi perubahan paradigma tersebut adalah ditemukan dan diterapkannya model-model Pembelajaran Inovatif dan Konstruktif atau lebih tepat dalam mengembangkan dan menggali pengetahuan peserta didik secara konkret dan mandiri. Inovasi ini bermula dan diadopsi dari metode kerja para ilmuwan dalam menemukan suatu pengetahuan baru.
Berdasarkan alasan tersebut, maka sangatlah penting bagi para pendidik khususnya khususnya guru memahami karakteristik materi, peserta didik dan metodologi pembelajaran dalam proses pembelajaran terutama berkaitan pemilihan terhadap model-model pembelajaran modern. Dengan demikian proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif, dan konstruktif dalam merekonstruksikan wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.
Banyak metode-metode pembelajaran yang ada saat ini. Seperti metode model pengajaran langsung (direct instruction), model pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction), metode pembelajaran quantum learning, metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning), dan lainnya. Semakin banyak metode pembelajaran semakin mudah guru untuk menerapkan pengajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
Untuk penerapan metode-metode tersebut guru harus menyesuaikan dengan materi atau kondisi situasi pada pengajaran. Telah dijelaskan Lie dalam Made Wena (2009: 188) bahwa sering kali situasi yang muncul pada pengajaran siswa hanya duduk, diam, dengar, catat, dan hafal. Kondisi pembelajaran yang demikian, masih mendominasi proses pembelajaran pada sebagian besar jenjang pendidikan. Guna mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan keikutsertaan peserta didik secara aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar.
Dijelaskan oleh Lie dalam Made Wena (2009: 189) bahwa dengan aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran diharapkan hasil pembelajaran dan retensi siswa dapat meningkat dan kegiatan pembelajaran lebih bermakna. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) melalui pembelajaran kooperatif ternyata lebih efektif daripada pembelajaran oleh pengajar.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan rumusan masalah yang muncul. Apa pengertian pembelajaran kooperatif? Apa unsur-unsur penting dalam pembelajaran kooperatif? Apa prinsip dasar dan cirri-ciri pembelajaran kooperatif? Bagaimana langkah-langkah pembelajaran kooperatif? Apa variasi dalam model pembelajaran kooeratif?
   


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama.
Menurut Soekamto dalam Trianto (2007: 5) bahwa model pembelajaran adalah ”Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif.
Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. Menurut Ibrahim dkk dalam Triyanto (2007: 44), pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantungan satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.



4
 
 
B.       Unsur-Unsur Penting dalam Pembelajaran Kooperatif
Menurut Nurhadi & Senduk dan Lie dalam Made Wena (2009: 190) terdapat lima unsure penting dalam belajar kooperatif, yaitu seperti berikut ini: 
1.        Saling Ketergantungan yang Bersifat Positif Antara Siswa.
Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok. 
2.        Interaksi Antara Siswa yang Semakin Meningkat Belajar Kooperatif Akan Meningkatkan Interaksi Antara Siswa.
Hal ini, terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota  kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara  alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
3.        Tanggung Jawab Individual.
Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal (a) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (b) siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman sekelompoknya. 
4.        Keterampilan Interpersonal dan Kelompok Kecil.
Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus. 


5.        Proses Kelompok Belajar Kooperatif Tidak Akan Berlangsung Tanpa Proses Kelompok.
Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok  mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.

C.      Prinsip Dasar dan Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
1.        Prinsip Dasar dalam Pembelajaran Kooperatif
a.         Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain
b.        Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
c.         Kelompok mempunyai tujuan yang sama.
d.        Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e.         Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
f.         Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g.        Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
2.        Ciri-Ciri Model Pembelajaran Kooperatif 
a.         Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b.        Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
c.         Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.

Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain

D.      Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Menurut Ibrahim dkk dalam Triyanto (2007: 48) Terdapat 6 (enam) langkah dalam model pembelajaran kooperatif.
1.        Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
2.        Menyajikan Informasi.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
3.        Mengorganisasikan Siswa ke Dalam Kelompok-kelompok Belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisiensi.
4.        Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar
Guru membimbing kelompok-kelomok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
5.        Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan atau masing-masing kelompok mempresntasikan hasil kerjanya.
6.        Memberikan Penghargaan.
Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

E.       Model Pembelajaran Kooperatif
Waaupun prisip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat beberapa variasi dari model tersebut. Variasi model pembelajaran kooperatif diantaranya sebagai berikut :
1.        Student Team-Achievement Division (STAD)
Teknik Student Team-Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (Triyanto, 2009: 52) merupakan produk psikologi behavioristik. STAD merupakan teknik pembelajaran kolaboratif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan teknik STAD yang mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu melalui informasi verbal atau teks. Siswa dalam satu kelas dibagi-bagi menjadi kelompok-kelompok beranggotakan 4-5 orang. Setiap kelompok harus heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan akademik tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya.
Siswa saling membantu satu sama lain dalam rangka memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, dan melakukan diskusi. Sekali dalam dua minggu, siswa secara individual diberikan kuis. Hasil kuis diskor, dan tiap siswa diberikan skor perkembangan. Skor perkembang-an ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada sebeberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor siswa yang lalu. Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat diumumkan kelompok yang memperoleh skor tertinggi, siswa yang mencapai skor perkembangan tertinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis tersebut. Kadang-kadang seluruh kelompok yang mencapai kriteria tertentu dicantumkan dalam lembar itu.
Langkah-langkah pembelajaran kolaboratif STAD adalah sebagai berikut.
a.         Sebelum siswa berkumpul menurut kelompok STAD masing-masing, Guru menjelaskan ringkasan materi sekitar 10-15 menit.
b.        Guru mempersilahkan para siswa berkumpul menurut kelompok STAD masing-masing.
c.         Semua kelompok disuruh menyelesaikan tugas-tugas yang ada dalam LKS sampai tuntas untuk cakupan materi tertentu sesuai dengan alokasi waktu yang disediakan.
d.        Masing-masing siswa berdiskusi dan saling bertukar pendapat untuk memformulasikan jawaban.
e.         Salah seorang anggota kelompok bertugas menulis jawaban yang telah disepakati bersama.
f.         Guru mengumpulkan laporan masing-masing kelompok.
g.        Setidak-tidaknya setelah dua atau tiga LKS selesai dibahas, Guru memberikan kuis satu atau dua soal diambilkan dari LKS atau soal dibuat sendiri untuk alokasi waktu 10 menit.
h.        Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
i.          Hasil kuis dikoreksi dan dibuat daftar kemajuan yang dialami oleh siswa dalam kuis tersebut.
2.        Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Jigsaw telah dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopskins (Triyanto, 2007: 56).
Langkah-langkah pembelajaran Jigsaw
a.         Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang
b.        Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
c.         Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut.
d.        Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing (kelompok asal), kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya
e.         Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan
Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.Bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, model pembelajaran Jigsaw memiliki cirri khas khusus.
                                                  
Dapat diambil peran dalam metode pembelajaran kooperatif jigsaw, diantaranya:
a.         Guru berperan sebagai pedamping, penolong, dan mengarahkan siswa dalam dalam mem[elajari materi pada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.
b.        Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat.
c.         Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.             Pembelajaran Kooperatif Adalah Strategi Belajar Dimana Siswa Belajar dalam Kelompok Kecil yang Memiliki Tingkat Kemampuan yang Berbeda.
2.             Penerapan Pembelajaran Kooperatif dapat Mendorong Siswa untuk Menjadi Pebelajar yang Mandiri dan Otonom.
3.             Pergeseran Peran Guru Selama Pembelajaran Sehingga Mendorong Adanya Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa.

B.       Saran
1.             Diharapkan Guru Mengenalkan dan Melatihkan Keterampilan Proses dan Keterampilam Kooperatif Sebelum atau Selama Pembelajaran. Agar Siswa Mampu Menemukan dan Mengembangkan Sendiri Fakta dan Konsep Serta Dapat Menumbuhkan dan Mengembangkan Sikap dan Nilai yang Dituntut.
2.             Agar Pembelajaran dengan Pendekatan Keterampilan Proses Berorientasi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dapat Berjalan, Sebaiknya Guru Membuat Perencanaan Mengajar Materi Pelajaran, dan Menentukan Semua Konsep-Konsep yang akan Dikembangkan, dan Untuk Setiap Konsep Ditentukan Metode atau Pendekatan Yang akan Digunakan Serta Keterampilan Proses yang akan Dikembangkan.
3.             Dalam Menerapakan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Harus Memperhatikan Tingkat Heteregonitas Masing-Masing Kelompok,Asal dan Pemberian Tugas yang akan Menjadi Tim Ahli Sesuai dengan Kemampuan Siswa.
4.             Guru Harus Selalu Memupuk Tanggung Jawab Individu dan Kelompok dalam Pembelajaran.



11
 
 
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kholid, dkk. 2009. Model Pembelajaran Tipe Jigsaw. Lampung: Universitas Lampung. Diunduh dari http://blog.unila.ac.id/imadesulatra/files/2009/08/makalah-jigsaw.pdf pada tanggal 4 Januari 2011.
Heri Jauhari. 2009. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Pustaka Setia.
Hisyam Zaini, dkk. 2006. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Made Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharjo. 2006. Mengenal Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Ditjen Dikti.
Trianto. 2007. Mode-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka.




12
 
 

0 komentar:

Posting Komentar