Rabu, 04 Juni 2014

KONSEP PENDIDIKAN DAN PELATIHAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Peningkatan kualitas, efektifitas dan efesiensi tidak hanya tergantung pada teknologi mesin-mesin modern, modal yang cukup dan adanya bahan baku yang bermutu saja. Namun semua faktor tersebut tidak akan terjadi apa-apa tanpa adanya dukungan dari sumber daya manusia yang baik dan bisa mengembangkan kemampuan dan keahlian mereka serta dapat menunjukkannya dalam peningkatan grafik produktivitas kerja.
Menguraikan sumber daya manusia, tidak lepas dari manajemen sumber daya manusia itu sendiri. Manajemen sumber daya manusia merupakan aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan agar sumber daya manusia di dalam suatu organisasi dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Salah satu hal yang kongkrit untuk mendorong peningkatan produktivitas sumber daya manusia adalah pendidikan dan pelatihan agar mampu mengemban tugas dan pekerjaan dengan sebaik mungkin.

Pekerjaan yang dilakukan dengan tingkat pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan isi kerja akan mendorong kemajuan setiap usaha yang pada gilirannya akan juga meningkatkan pendapatan, baik pendapatan perorangan, kelompok maupun pendapatan nasional. Dengan program pelatihan yang efektif dan efisien, maka kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan pendidikan non formal yang dimiliki karyawan akan turut meningkatkan kemampuan dan penguasaan akan pekerjaannya yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas kerja yang baik. 
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, dalam makalah ini penulis akan membahas tentang “Pendidikan dan Pelatihan”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.        Apakah konsep pendidikan dan pelatihan?
2.        Apakah perbedaan pendidikan dan pelatihan?
3.        Apakah tujuan pendidikan dan pelatihan?
4.        Apa saja prinsip˗prinsip pendidikan dan pelatihan?
5.        Apakah fungsi pendidikan dan pelatihan?
6.        Apakah manfaat pendidikan dan pelatihan?
7.        Bagaimana jenis pendidikan dan pelatihan?
8.        Bagaimana metode pendidikan dan pelatihan?
9.        Bagaimana keberhasilan pendidikan dan pelatihan?
10.    Apa saja hal˗hal yang perlu dipersiapkan dalam pendidikan dan pelatihan?

C.    Tujuan
Penulisan makalah ini memiliki tujuan, antara lain:
1.        Menjelaskan definisi pendidikan dan pelatihan
2.        Menjelaskan perbedaan pendidikan dan pelatihan
3.        Menjelaskan tujuan pendidikan dan pelatihan
4.        Menjelaskan prinsip˗prinsip pendidikan dan pelatihan
5.        Menjelaskan fungsi pendidikan dan pelatihan
6.        Menjelaskan manfaat pendidikan dan pelatihan
7.        Menjelaskan jenis pendidikan dan pelatihan
8.        Menjelaskan metode  pendidikan dan pelatihan
9.        Menjelaskan keberhasilan pendidikan dan pelatihan
10.    Menjelaskan hal˗hal yang perlu dipersiapkan dalam pendidikan dan pelatihan









BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pendidikan dan Pelatihan
1.      Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sistematik yang disengajakan, yang dibuat oleh sesuatu masyarakat untuk menyampaikan pengetahuan, nilai, sikap dan kemahiran kepada ahlinya, usaha memperkembangkan potensi individu dan perubahan yang berlaku dalam diri manusia.
Zais (1986:317) dalam http://www.scribd.com/doc/55461188/ Makalah-Pendidikan-Dan-Pelatihan-Diklat mengemukakan bahwa pendidikan sebagai proses memperluas kepedulian dan keberadaan sesorang menjadi dirinya sendiri atau proses mendefinisikan dan mendefinisikan keberadaan diri sendiri di tengah-tengah lingkungannya.
Dai uraian tentang pengertian pendidikan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a.       Pendidikan adalah susatu kegiatan atau usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina pada potensi pribadinya yang berupa rohani (cipta, rasa, dan karsa) serta jasmani (panca indra dan keterampilan).
b.      Pendidikan di dalam suatu proses perubahan perilaku menuju kepada kedewasaan dan penyempurnaan kehidupan manusia.
c.       Pendidikan adalah suatu proses pengembangan kemampuan atau perilaku ke arah yang diinginkan.
d.      Pendidikan merupakan hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia, dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam mencapai tujuan.
2.      Pengertian Pelatihan
Nadler dan Wiggs dalam http://zakarija.staff. umm.ac.id/files/ 2010/12/PENDIDIKAN-DAN-PELATIHAN1.pdf mendefinisikan pelatihan (training) sebagai teknik-teknik yang memusatkan pada belajar tentang 4 ketrampilan-ketrampilan, pengetahuan dan sikap-sikap yang dibutuhkan untuk memulai suatu pekerjaan atau tugas-tugas atau untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan suatu pekerjaan atau tugas.
Payaman Simanjuntak (2005) mendefinisikan pelatihan merupakan bagian dari investasi SDM (human investment) untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja sehingga meningkatkan kinerja pegawai. Pelatihan biasanya dilakukan dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan jabatan, diberikan dalam waktu yang relatif pendek, untuk membekali seseorang dengan keterampilan kerja.
Menurut beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan merupakan suatu kegiatan dalam maksud untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku, keterampilan, dan pengetahuan dari para pegawai sesuai dengan keinginan dari suatu lembaga atau organisasi.
Menurut Hamalik yang dikutip oleh Pujirahayu (2008:17) dalam http://www.scribd.com/doc/55461188/Makalah-Pendidikan-Dan-Pelatihan-Diklat konsep sistem pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah upaya untuk meningkatkan, mengembangkan, dan membentuk pegawai melalui upaya pendidikan dan pelatihan baik berupa diklat berjenjang, diklat kursus, diklat fungsional, dan diklat operasional yang banyak diterapkan oleh suatu organisasi dalam rangka meningkatkan kemampuan kerja karyawan dalam menghadapi aktivitasnya, yang diupayakan dapat meningkatkan pelayanan masyarakatnya.
Menurut Syamsuddin yang dikutip oleh Pujirahayu (2008:18) diklat adalah suatu proses dari pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan terus menerus bagi suatu organisasi agar karyawan yang mengikuti diklat mampu mengembangkan karir dan aktivitas kerjanya di dalam mengembangkan, memperpaiki perilaku kerja karyawan, mempersiapkan karyawan untuk menduduki jabatan yang lebih rumit dan sulit, serta mempersiapkan tenaga untuk mengembangkan aktivitas kerjanya.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan dan latihan (diklat) merupakan proses sistematis untuk meningkatkan, mengembangkan, dan membentuk pegawai dimana pegawai mempelajari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), kemampuan (ability) atau perilaku terhadap tujuan pribadi dan organisasi sehingga tercipta sumber daya manusia yang berkualitas.
Penggunaan istilah pendidikan dan pelatihan dalam suatu institusi atau organisasi biasanya disatukan menjadi diklat (pendidikan dan pelatihan). Unit yang menangani pendidikan dan pelatihan pegawai lazim disebut PUSDIKLAT (Pusat Pendidikan dan Pelatihan).

B.       Perbedaan Pendidikan dan Pelatihan
Pemahaman  terhadap  istilah  pendidikan  dan  pelatihan  sering  tumpang tindih, batasan antara keduanya seringkali kabur, karena keduanya memiliki tujuan yang  sama  yaitu  terjadinya  perubahan  perilaku  ke  arah  yang  lebih  baik sesuai  dengan yang diinginkan.  Keduanya berhubungan dengan belajar dan perubahan pada diri manusia, tetapi berbeda terutama dalam hal tujuan khusus yang ingin dicapai.
Miner  (1992)  menyebut  bahwa  pendidikan  lebih  terkait  dengan  tujuan-tujuan yang bersifat individual dan tidak terkait langsung dengan tujuan organisasi (walaupun tujuan-tujuan tersebut bisa saja tumpang tindih), sedang pelatihan pada dasarnya  berhubungan dengan peran khusus  individu dalam organisasi.  Pelatihan ditujukan  untuk  membantu  individu  agar  berhasil  menampilkan  kinerjanya  dalam suatu pekerjaan tertentu.  Jadi,  pertumbuhan  mereka dan  berbagai peran yang akan mereka mainkan di lingkungan sosial  mereka menjadi titik awal dalam pendidikan, sedangkan  pelatihan  berawal  dari  kebutuhan  dalam  suatu  pekerjaan tertentu  yang  akan  dilakukan.  Lebih  jauh  Miner  menjelaskan  bahwa  proses pelatihan  lebih  dipusatkan pada pembelajaran dan perubahan pada  suatu hal  yang secara  khusus  dapat  diterapkan  pada  suatu  jabatan,  melengkapi  persayaratan jabatan  yang  dibutuhkan,  dan efisien  dalam  hal  waktu,  biaya,  dan  sumber  daya yang digunakan.
Jadi, pendidikan  lebih  mengarah pada  pengetahuan  dan  hal-hal  yang  bersifat  umum dan terkait  dengan  kehidupan pribadi secara luas, sedangkan pelatihan mengarah pada ketrampilan berperilaku secara khusus dan ada ukuran benar atau salah. Pendidikan  lebih  diarahkan  untuk  memecahkan knowledge  problems, sedangkan pelatihan lebih pada skill problems, dan keduanya digunakan secara bersama untuk memecahkan motivation  problems.  Dalam  konteks  dunia  kerja  secara tegas  membedakan  antara  pendidikan  dan  pelatihan  sebagaimana  pada  tabel berikut ini: 
PENDIDIKAN
PELATIHAN
Proses memperoleh pengetahuan atau informasi
Proses mengembangkan keterampilan untuk suatu pekerjaan atau tugas tertentu
Menekankan pada mengetahui
Menekankan pada melakukan
Menekankan  pencapaian  dengan membandingkan  dengan  tingkat  pengetahuan  yang dimiliki  oleh orang lain
Menekankan  pencapaian  pada  tingkat keterampilan  tertentu  yang  bisa dilakukan  
Menekankan  pada cara  pandang sistem terbuka,  bahwa  ada  banyak  cara  yang bisa  digunakan  untuk  mencapai  suatu tujuan, berpikir kreatif dan kritis  sangat dianjurkan
Menekankan  pada  cara  pandang  sistem tertutup,  bahwa  ada  cara  khusus  yang benar  atau  salah  dalam menunjukkan suatu ketrampilan
Menekankan  pada  mengetahui
informasi yang tidak harus berhubungan secara  langsung dengan  pekerjaan  atau karir tertentu
Menekankan  pada  tingkat  kinerja  pada suatu pekerjaan tertentu
Menekankan  pada  pendekatan terbuka dalam  mencapai  suatu  tujuan,  setiap tahap dalam prosesnya tidak ditentukan
Menekankan  pada  suatu  urutan  yang komprehensif  dalam  menampilkan suatu  ketrampilan  yang  diperlukan untuk menunjukkan  suatu  perilaku
Tertentu dan setiap  langkah  dalam prosesnya ditentukan


Perbedaan-perbedaan  tersebut  tentu  saja menimbulkan  implikasi  yang  berbeda terkait dengan gejala-gejala psikologis  baik yang  terjadi  pada  diri  peserta (yang  dididik  atau  dilatih) maupun pada  yang mendidik  atau  melatih.    Perbedaan  tersebut  juga  berimplikasi  pada  berbedanya proses  belajar  (learning)  yang  terjadi  meskipun  pada  dasarnya pendidikan  dan  pelatihan  keduanya  merupakan proses belajar dan bermuara pada terjadinya perubahan perilaku.

C.      Tujuan Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan meliputi dua tujuan sekaligus, yaitu tujuan pendidikan dan tujuan pelatihan yang merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tujuan  diadakannya  pusat/ badan/ lembaga/ unit  pendidikan  dan pelatihan  tersebut  umumnya  untuk  dapat  memecahkan  masalah-masalah perilaku dalam  organisasi  yang  meliputi  masalah  pengetahuan,  ketrampilan  dan  motivasi atau  sikap,  serta  untuk  meningkatkan  kompetensi para  pesertanya  terkait  dengan tugas-tugas  dan  pekerjaan  yang  akan  dipertanggungjawabkan  kepada  mereka. 
Seseorang  yang  mengalami skill  problems,  tidak  bisa  berperilaku  sebagaimana yang  diharapkan,  mungkin  karena  ia  memang  belum  tahu  sehingga  perlu  dididik. Seseorang  yang  mengalami motivation  problems mungkin  bukan  karena  ia  tidak mau  melakukan  sebagaimana  yang  diharapkan,  melainkan  karena  ia  tidak  tahu mengapa  harus  melakukannya  sehingga  ia  perlu  diberitahu.    Seseorang  yang mengalami knowledge problems bisa saja bukan karena ia tidak tahu tetapi karena ia  tidak  mau  tahu  sehingga  perlu  dimotivasi.    Dengan  demikian,  para  pegawai, karyawan atau anggota-anggota organisasi akan mampu melaksanakan tugas-tugas dan  pekerjaan  yang  dipertanggungjawabkan  kepada  mereka  sebagaimana  yang diharapkan,  dengan  mengikuti  program  pendidikan  dan  pelatian.   Jadi  baik pendidikan  maupun  pelatihan,  sebenarnya  sama-sama  mengupayakan  dicapainya suatu kompetensi tertentu dari para pesertanya.  
Menurut pasal 9 Undang-Undang Ketenagakerjaan tahun 2003, pendidikan dan pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan. Tujuan-tujuan pendidikan dan pelatihan dapat dikelompokkan mejadi lima bidang, yaitu:
1.        Memperbaiki kinerja
2.        Memutakhirkan keahlian-keahlian para pegawai/ karyawan sejalan dengan kemajuan tekhnologi.
3.        Mengurangi waktu pembelajaran bagi pegawai/ karyawan baru agar kompeten dalam pekerjaan.
4.        Membantu memecahkan masalah operasional.
5.        Mempersiapkan pegawai/ karyawan untuk mendapatkan promosi jabatan.

D.      Prinsip-Prinsip Pendidikan dan Pelatihan
Beberapa prinsip dalam pendidikan dan pelatihan antara lain :
1.      Perbedaan individu
Pada saat perencanaan dan pelaksanaan harus tetap diingat adanya perbedaan individu dari para peserta baik latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun keinginan. Oleh karena itu, sifat dan cara pendidikan dan pelatihan harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga pendidikan dan pelatihan tersebut akan dapat memberikan hasil dan manfaat dengan cakupan yang besar.
2.      Analisis jabatan
Spesifikasi pekerjaan akan dapat menjelaskan pendidikan yang sesuai dan harus dimiliki oleh calon pekerja untuk dapat menunjang pelaksanaan pekerjaannya. Oleh karena itu, bahan-bahan yang akan diajarkan harus berhubungan erat dengan apa yang dinyatakan dalam analisis pekerjaan peserta.
3.      Motivasi
Orang akan bersungguh-sungguh melaksanakan suatu tugas tertentu bila ada daya rangsangannya. Demikian juga halnya dengan peserta yang mengikuti pendidikan dan pelatihan, mereka melihat kenaikan upah maupun kenaikan kedudukan adalah beberapa daya rangsang yang dipergunakan untuk belajar sungguh-sungguh selama pendidikan dan pelatihan.
4.      Partisipasi aktif
Peserta pendidikan dan pelatihan harus turut aktif dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan. Sistem pendidikan dengan jalan memberikan kuliah sering kali membosankan karena bersifat satu arah. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan harus dapat memberikan kesempatan untuk bertukar pikiran antara peserta dan pengajar, sehingga peserta turut aktif berfikir selama pelaksanaan berlangsung.
5.      Seleksi peserta pelatihan
Diantara peserta pendidikan dan pelatihan terdapat perbedaan baik pendidikan, pengalaman maupun keinginan sehingga untuk menjaga agar perbedaan tidak terlalu besar, maka calon peserta harus diseleksi. Pendidikan dan pelatihan sebaiknya diberikan kepada peserta yang berminat dan berkemauan keras untuk mengikutinya. Pada umumnya orang menganggap bahwa adanya seleksi memberikan gambaran bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat mengikuti pendidikan dan pelatihan.
6.      Seleksi pengajar
Tidak setiap orang dapat menjadi seorang pengajar yang baik. Jabatan untuk mengajar juga memerlukan kualifikasi tertentu karena berhasil atau tidaknya pendidikan dan pelatihan tergantung ada atau tidaknya persamaan kualifikasi analisis jabatan pengajar dengan kalifikasi analisisi pekerjaan peserta. Oleh karena itu, salah satu asas penting dari pendidikan dan pelatihan ialah tersedianya tenaga pelatih yang terdidik, berminat, dan mempunyai kesanggupan untuk mengajar.
7.      Pelatihan pengajar
Pengajar dalam suatu pendidikan dan pelatihan harus mudah mendapatkan pendidikan khusus untuk menjadi tenaga pelatih. Harus diingat bahwa tidak semua orang yang pandai dalam suatu bidang tertentu dapat mengajarkan kepandaiannya kepada orang lain.
8.      Metode pelatihan
Metode pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan jenis latihan yang diberikan. Metode pemberian kuliah tidak tepat bagi supervisor, meskipun cara seperti ini dapat diberikan pada jenis pendidikan yang lain. Oleh karena itu, pilih metode yang tepat untuk digunakan pada saat pendidikan dan pelatihan.
9.      Asas belajar
Pada umumnya orang akan lebih mudah mengkap pelajaran jika pelajaran yang diberikan dimulai dari hal yang lebih mudah, baru kemudian mempelajari hal yang lebih sulit.

E.       Fungsi Pendidikan dan Pelatihan
Fungsi pendidikan dan pelatihan adalah :
1.        Memperbaiki kinerja ( performance ) para peserta.
2.        Mempersiapkan promosi ketenagakerjaan pada jabatan yang lebih rumit dan sulit.
3.        Mempersiapkan tenaga kerja pada jabatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan kepengawasan atau manajerial.
4.        Dapat membantu karyawan membuat keputusan yang lebih baik.
5.        Meningkatkan kemampuan di bidang kerjanya sehingga dapat mengurangi stres dan menambah rasa percaya diri. 
6.        Sebagai proses penumbuhan intelektualitas sehingga kecemasan menghadapi perubahan di masa-masa mendatang dapat dikurangi.
F.       Manfaat Pendidikan dan Pelatihan
Manfaat pendidikan dan pelatihan pata dikelompokan menjadi:
1.        Manfaat bagi organisasi
a.       Peningkatan produktivitas kerja organisasi sebagai keseluruhan antara lain karena tidak terjadinya pemborosan tetapi kecermatan melaksanakan tugas. Kerjasama yang baik antara berbagai satuan kerja yang melaksanakan kegiatan berbeda dan spesialistik, meningkatkan tekad mencapai sasaran yang telah ditetapkan serta lancarnya koordinasi sehingga organisasi bergerak sebagai satuan yang bulat dan utuh.
b.      Terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan. Saling menghargai dan adanya kesempatan bagi bawahan untuk berfikir dan bertindak secara inovatif.
c.       Terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan kegiatan tepat, selain itu para pegawai yang bertanggung jawab menyelengagarakan kegiatan-kegiatan operasional dan tidak sekedar diperintah oleh manajer.
d.      Meningkatkan semangat kerja seluruh pegawai dalam organisasi dengan komitmen organisasi yang lebih tinggi.
e.       Mendorong sikap keterbukaan manajemen, penerapan gaya manajerial (pengurusan) yang partisipatif.
f.       Memperlancar jalannya komunikasi efektif yang memperlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan operasional.
g.      Penyelesaian konflik secara fungsional yang dampaknya ialah rasa persatuan dan suasan kekeluargaan dikalangan para anggota organisasi.
2.        Manfaat bagi individu
a.       Menolong para pegawai membuat keputusan dengan baik.
b.      Meningkatkan kemampuan para pegawai menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya.
c.       Timbulnya dorongan di dalam diri para pegawai untuk terus meningkatkan kemampuan kerjanya.
d.      Peningkatan kemampuan pegawai untuk mengatasi stress, frustasi, dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya diri.
e.       Tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat dimanfaatkan oleh para pegawai dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara teknikal dan intelektual.
f.       Meningkatkan kepuasan kerja
g.      Semakin besarnya tekad pegawai untuk lebih mandiri.
h.      Mengurangi ketakutan mengahadapi tugas-tugas baru di masa depan.
3.        Manfaat bagi kelompok kerja
a.       Terjadinya proses komunikasi yang efektif.
b.      Adanya persepsi yang sama tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan.
c.       Ketaatan semua pihak terhadap berbagai ketentuan yang bersifat normal, berlaku umum, dan ditetapkan oleh instansi pemerintah yang berwenang maupun yang berlaku khusus di lingkungan seluruh pegawai.
d.      Terjadinya iklim yang baik bagi pertumbuhan seluruh pegawai.
e.       Menjadikan organisasi sebagai tempat yang lebih menyenangkan untuk berkarya.

G.      Jenis-Jenis Pendidikan dan Pelatihan
Adapun jenis-jenis pendidikan dan pelatihan antara lain:
1.        Diklat kepemimpinan
Diklat kepemimpinan yang selanjutnya disebut DIKLATPIM dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintah yang sesuai dengan jenjang jabatan struktural. Diklat kepemimpinan adalah diklat dengan sasaran utama untuk meningkatkan karir guna memangku suatu jabatan fungsi atau pangkat tertentu secara bertahap dan untuk memperkaya atau meningkatkan keterampilan manajemen kepemimpinan serta kemampuan menciptakan metode-metode kerja baru. Diklat kepemimpinan dititikberatkan pada penajaman keahlian spesifik baik dalam bidang pekerjaan maupun bidang manajerial. Antara lain meliputi Diklat Pengelola Cabang, Kursus pimpinan Madya, dan Kursus pimpinan Utama.
2.        Diklat Fungsional
Diklat fungsional adalah diklat yang ditujukan untuk menunjang mengembangkan keahlian atau keterampilan kerja dan dititikberatkan pada perubahan pola kerja, cara kerja dan penggunaan metode kerja mutakhir. Diklat fungsional dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi yang sesuai dengan jenis dan jenjang jabatan fungsional masing-masing jenis dan jenjang diklat fungsional untuk masing-masing jabatan fungsional ditetapkan oleh instansi pembina jabatan fungsional yang bersangkutan.
3.        Diklat Teknis
Diklat teknis dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas pegawai atau karyawan. Diklat teknis dapat dilaksanakan secara berjenjang. Jenis dan jenjang diklat teknis untuk masing-masing jabatan ditetapkan oleh instansi teknis yang bersangkutan.

H.      Metode Pendidikan dan Pelatihan
Banyak sekali metode untuk pelatihan yang dapat digunakan, karena masing-masing metode tersebut saling melengkapi dan tidak ada yang paling baik. Metode mana yang akan digunakan tergantung kepada faktor-faktor seperti jenis pelatihan yang diberikan, pelatihan diberikan kepada siapa, berapa usia para pesertanya, pendidikan dan pengalaman peserta, dan tersedianya instruktur yang cakap dalam suatu metoda pelatihan tertentu.
Pelaksanaan pendidikan dan latihan dapat melalui beberapa metode, yaitu :
1.        Sistem Magang
Sistem ini merupakan sistem yang paling tua di dunia. Sistem magang mempunyai prinsip umum yaitu belajar sambil bekerja dan sebaliknya.
2.        Sistem Peragaan
Untuk ketrampilan tertentu sering kali dalam pendidikan dan latihan menggunakan peragaaan, dengan alat-alat tertentu serta didemontrasikan cara pengerjaannya.
3.        Sistem Bimbingan
Dengan sistem ini pelajaran langsung diberikan satu-persatu sehingga para pegawai akan lebih cepat memahami pelajaran yang diberikan.
4.        Sistem Latihan Praktek
Dalam sistem ini seseorang lebih ditekankan untuk melaksanakan latihan praktek seperti sesungguhnya agar mereka dapat langsung bekerja.
Menurut Cherrington (1995:358), dikatakan bahwa metode dalam pendidikan pelatihan secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu on the job training dan off the job training. On the job training lebih banyak digunakan dibandingkan dengan off the job training. Hal ini disebabkan karena metode on the job training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat, sedangkan metode off the job training lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
1.        On The Job Training
Metode ini dilakukan oleh instansi kepada pegawai dengan tetap bekerja sambil mengikuti pendidikan dan latihan. Kegiatan ini meliputi rotasi kerja di mana pegawai pada waktu tertentu melakukan suatu rangkaian pekerjaan. Pegawai secara internal dilatih dan dibimbing oleh pegawai lain yang berkemampuan tinggi dan mempunyai kewenangan melatih. On the job training dibagi menjadi 6 macam yaitu:
a.          Job instruclion training
Pelatihan ini memerlukan analisa kinerja pekerjaan secara teliti. Pelatihan ini dimulai dengan penjelasan awal tentang tujuan pekerjaan, dan menunjukan langkah-langkah pelaksanan pekerjaan.
b.        Apprenticeship
Pelatihan ini mengarah pada proses penerimaan karyawan baru, yang bekerja bersama dan dibawah bimbingan praktisi yang ahli untuk beberapa waktu tertentu. Keefektifan pelatihan ini tergantung pada kemampuan praktisi yang ahli dalam mengawasi proses pelatihan.
c.         Internship dan assistantships
Pelatihan ini hampir sama dengan pelatihan apprenliceship hanya saja pelatihan ini mengarah pada kekosongan pekerjaan yang menuntut pendidikan formal yang lebih tinggi. Contoh internship training adalah cooperalive education project, maksudnya adalah pelatihan bagi pelajar yang menerima pendidikan formal di sekolah yang bekerja di suatu perusahan dan diperlakukan sama seperti karyawan dalam perusahaan tetapi tetap dibawah pengawasan praktisi yang ahli.
d.        Job rotation dan transfer
Yaitu proses belajar yang biasanya untuk mengisi kekosongan dalam manajemen dan teknikal. Dalam pelatihan ini terdapat 2 kerugian yaitu:
1)        Peserta pelatihan hanya merasa dipekerjakan sementara dan tidak mempunyai komitmen untuk terlibat dalam pekerjaan dengan sungguh-sungguh.
2)        Banyak waktu yang terbuang untuk memberi orientasi pada perserta terhadap kondisi pekerjaan yang baru.
Pelatihan ini juga mempunyai keuntungan yaitu jika pelatihan ini diberikan oleh manajer yang ahli maka peserta akan memperoleh tambahan pengetahuan mengenai pelaksanaan dan praktik dalam pekerjaan.
e.         Junior boards dan committee assignment
Alternatif pelatihan dengan memindahkan perserta pelatihan kedalam komite untuk bertanggungjawab dalam pengambilan keputusan administrasi. Dan juga menempatkan perserta dalam anggota eksekutif agar memperoleh kesempatan dalam berinteraksi dengan eksekutif yang lain.
f.         Couching dan counseling
Pelatihan ini merupakan aktifitas yang mengharapkan timbal balik dalam penampilan kerja, dukungan dari pelatih, dan penjelasan secara berlahan bagaimana melakukan pekerjaan secara tepat.
2.        Off The Job Training, 
Off the job training, dilakukan di luar tempat kerja pegawai. Pendidikan dan latihan ini mengacu pada simulasi pekerjaan yang sebenarnya. Tujuannya adalah untuk menghindarkan tekanan-tekanan yang mungkin mempengaruhi jalannya proses belajar. Metode ini dapat juga dilakukan di dalam kelas dengan seminar, kuliah dengan pemutaran film tentang pendidikan sumber daya manusia. Off the job training  dibagi menjadi 13 macam yaitu:
a.         Vestibule training
Pelatihan dimana dilakukan ditempat tersendiri yang dikondisikan seperti tempat aslinya. Pelatihan ini digunakan untuk mengajarkan keahlian kerja yang khusus.
b.        Lecture
Pelatihan dimana menyampaikan berbagai macam informasi kepada sejumlah besar orang pada waktu bersamaan.
c.         Independent self-study
Pelatihan yang mengharapkan peserta untuk melatih diri sendiri misalnya dengan membaca buku, majalah profesional, mengambil kursus pada universitas lokal dan mengikuti pertemuan profesional.
d.        Visual presentations
Pelatihan dengan mengunakan televisi, film, video, atau persentasi dengan menggunakan slide.
e.         Conferences dan discussion
Pelatihan ini biasa digunakan untuk pelatihan pengambilan keputusan dimana peserta dapat belajar satu dengan yang lainnya.
f.         Teleconferencing
Pelatihan dengan menggunakan satelit, dimana pelatih dan perseta dimungkinkan untuk berada di tempat yang berbeda.
g.         Case studies
Pelatihan yang digunakan dalam kelas bisnis, dimana peserta dituntut untuk menemukan prinsip-prinsip dasar dengan menganalisa masalah yang ada.
h.        Role playing
Pelatihan dimana peserta dikondisikan pada suatu permasalahan tertentu, peserta harus dapat menyelesaikan permasalahan dimana peserta seolah-olah terlibat langsung.
i.          Simulation
Pelatihan yang menciptakan kondisi belajar yang sangat sesuai atau mirip dengan kondisi pekerjaan, pelatihan ini digunakan untuk belajar secara teknikal dan motor skill.
j.          Programmed instruction
Programmed instruction merupakan aplikasi prinsip dalam kondisi operasional, biasanya menggunakan computer.
k.        Computer-based training
Program pelatihan yang diharapkan mempunyai hubungan interaktif antara komputer dan peserta, dimana peserta diminta untuk merespon secara langsung selama proses belajar.
l.          Laboratory training
Pelatihan ini terdiri dari kelompok-kelompok diskusi yang tak beraturan dimana peserta diminta untuk mengungkapkan perasaan mereka terhadap satu dengan yang lain. Tujuan pelatihan ini adalah menciptakan kewaspadaan dan meningkatkan sensitivitas terhadap perilaku dan perasaan orang lain maupun dalam kelompok.
m.      Programmed group exercise
Pelatihan yang melibatkan peserta untuk bekerja sama dalam memecahkan suatu permasalahan.
I.         Keberasilan Pendidikan dan Pelatihan
Keberhasilan suatu program pelatihan ditentukan oleh lima komponen menurut As’ad (1987: 73) dalam  http://litbangadpend05.wordpress. com/refleksi/ yaitu:
1.        Sasaran pelatihan atau pengembangan: setiap pelatihan harus mempunyai sasaran yang jelas yang bisa diuraikan kedalam perilaku-perilaku yang dapat diamati dan diukur supaya bisa diketahui efektivitas dari pelatihan itu sendiri.
2.        Pelatih (Trainer): pelatih harus bisa mengajarkan bahan-bahan pelatihan dengan metode tertentu sehingga peserta akan memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperlukan sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.
3.        Bahan-bahan latihan: bahan-bahan latihan harus disusun berdasarkan sasaran pelatihan yang telah ditetapkan.
4.        Metode latihan (termasuk alat bantu): Setelah bahan dari latihan ditetapkan maka langkah berikutnya adalah menyusun metode latihan yang tepat.
5.        Peserta (Trainee): Peserta merupakan komponen yang cukup penting, sebab keberhasilan suatu program pelatihan tergantung juga pada pesertanya.
Efektivitas  setiap  pusat/ badan/ lembaga/ unit  pendidikan  dan  pelatihan ditentukan oleh kompetensi  yang  dimiliki  oleh  para  peserta  setelah  mengikuti proses pendidikan  dan  pelatihan,  sebagaimana  umumnya  telah  ditetapkan  di  awal sebelum  memulainya.    Jika  dipandang  bahwa  pusat/ badan/ lembaga/ unit pendidikan  dan  pelatihan  bertujuan  untuk  memecahkan  masalah  pengetahuan, sikap  dan  motivasi  para  pesertanya,  maka  ukuran  keberhasilan  prosesnya  terletak pada  apakah  setelah menyelesaikan  program pendidikan  dan  pelatihan  tersebut para  peserta  masih  memiliki  masalah  dalam  hal-hal  tersebut. Masalah-masalah tersebut  dianggap  masih  ada  jika  kenyataannya  kinerja  para  pegawai  atau karyawan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh organisasi.  Oleh karenanya, keberhasilan atau efektifitas  suatu  pusat/ badan/ lembaga/ unit  pendidikan  dan  pelatihan  dapat  diukur dari kesesuaian  perilaku  mereka  dalam  organisasi  dengan  yang  diharapkan  oleh organisasi.

J.        Hal˗Hal yang Harus Dipersiapkan dalam Pendidikan dan Pelatihan
Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam Pendidikan dan Pelatihan antara lain:
1.      Tujuan pelatihan
Dalam merencanakan pendidikan dan latihan, hal pertama yang harus diperhatikan adalah penentuan tujuan. Adanya tujuan Pendidikan dan latihan membuat kegiatannya dapat terarah, apakah pendidikan dan latihan tersebut bertujuan peningkatan pengetahuan, keterampilan atau ada tujuan lain.
2.      Manfaat pelatihan
Setiap pelaksanaan kegiatan diharapkan dapat membawa manfaat, baik untuk individu maupun untuk organisasi.
3.       Isi/ materi pelatihan
Materi yang diberikan kepada peserta pendidikan dan latihan harus disesuaikan dengan tujuan. Apabila tujuannya adalah peningkatan keterampilan, mestinya materi yang diberikan akan lebih banyak bersifat praktek.
4.      Waktu dan tempat pelatihan dilaksanakan
Pelaksanaan pendidikan dan latihan harus memperhitungkan waktu, karena adanya pengaturan waktu yang tepat, maka tidak ada jam efektif yang terbuang. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan rotasi pendidikan dan latihan. Selain waktu, tempat juga menentukan berhasil dan tidaknya pendidikan dan latihan. Tempat yang tepat, sesuai dengan metode dan tujuan, akan mendukung bagi tercapainya pelaksanaan pendidikan dan latihan yang tepat.
5.      Pelatih dan karyawan yang akan dilatih
Pelatih dan karyawan merupakan faktor utama terselenggaranya pendidikan dan latihan. Meskipun sarana dan prasarana memadai, kalau tidak ada pelatih dan karyawan, maka tidak akan terjadi pendidikan dan latihan. Pelatih adalah seseorang yang menyampaikan materi pendidikan dan latihan sesuai tujuan, sedangakan karyawan adalah orang yang menerima pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan.
6.      Biaya yang dibutuhkan dalam pelatihan
Kegiatan tanpa adanya biaya, maka tidak akan menghasilkan yang maksimal. Hal ini disebabkan semua aktivitas selalu membutuhkan dana, betapa pun kecil.  
7.      Metode pelatihan yang dipakai
Pelaksanaan pendidikan dan latihan harus menggunakan metode yang tepat, hal ini disebabkan ketepatan metode akan sangat berpengaruh terhadap hasil pendidikan dan latihan yang dijalankan. Situasi dan kondisi pendidikan dan latihan harus diperhitungkan, sehingga penerapan metode dapat disesuaikan.
8.      Fasilitas yang diperlukan dalam pelatihan
Fasilitas yang dimaksudkan di sini adalah fasilitas yang mendukung kegiatan, misalnya fasilitas penginapan, makan dan sebagainya.














BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.        Pendidikan dan pelatihan maka dapat disimpulkan bahwa, pendidikan dan latihan (diklat) merupakan proses sistematis untuk meningkatkan, mengembangkan, dan membentuk pegawai dimana pegawai mempelari pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), kemampuan (ability) atau perilaku terhadap tujuan pribadi dan organisasi sehingga tercipta sumber daya manusia yang berkualitas.
2.        Dalam  konteks  dunia  kerja  secara tegas  membedakan  antara  pendidikan  dan  pelatihan yaitu bahwa pendidikan  lebih  diarahkan  untuk  memecahkan knowledge  problems, sedangkan pelatihan lebih pada skill problems, dan keduanya digunakan secara bersama untuk memecahkan motivation  problems. 
3.        Tujuan-tujuan pendidikan dan pelatihan dapat dikelompokkan kedalam lima bidang, yaitu:
a.         Memperbaiki kinerja
b.        Memutakhirkan keahlian-keahlian para pegawai/ karyawan sejalan dengan kemajuan teknologi.
c.         Mengurangi waktu pembelajaran bagi pegawai/ karyawan baru agar kompeten dalam pekerjaan.
d.        Membantu memecahkan masalah operasional.
e.         Mempersiapkan pegawai/ karyawan untuk mendapatkan promosi jabatan.
4.        Beberapa prinsip dalam pendidikan dan pelatihan yiatu perbedaan individu, analisis jabatan, motivasi, partisipasi aktif, seleksi peserta pelatihan, seleksi pengajar, pelatihan pengajar, metode pelatihan, dan asas belajar.
5.        Fungsi pendidikan dan pelatihan adalah :
a.         Memperbaiki kinerja ( performance ) para peserta.
b.        Mempersiapkan promosi ketenagakerjaan pada jabatan yang lebih rumit dan sulit.
c.         Mempersiapkan tenaga kerja pada jabatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan kepengawasan atau manajerial.
d.        Dapat membantu karyawan membuat keputusan yang lebih baik.
e.         Meningkatkan kemampuan di bidang kerjanya sehingga dapat mengurangi stres dan menambah rasa percaya diri. 
f.         Sebagai proses penumbuhan intelektualitas sehingga kecemasan menghadapi perubahan di masa-masa mendatang dapat dikurangi.
6.        Manfaat nyata yang ditanggung dari program pendidikan dan pelatihan yaitu:
a.         Meningkatkan kualitas dan kuantitas produktivitas.
b.        Mengurangi waktu belajar yang diperlukan pegawai atau keryawan untuk mencapai standar kinerja yang dapat diterima.
c.         Membentuk sikap, loyalitas dan kerja sama yang saling menguntungkan.
d.        Memenuhi kebutuhan perencanaan sumber daya manusia.
e.         Membantu pegawai atau karyawan dalam penigkatan pengembangan pribadi mereka. 
7.        Jenis-jenis pendidikan dan pelatihan yaitu diklat kepemimpinan, diklat fungsional, dan diklat teknis.
8.        Metode dalam pendidikan pelatihan secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu on the job training dan off the job training. On The Job Training, metode atau strategi ini dilakukan oleh instansi kepada pegawai dengan tetap bekerja sambil mengikuti pendidikan dan latihan. Sedangkan, Off the job training, dilakukan di luar tempat kerja pegawai.
9.        Efektivitas  setiap  pusat/ badan/ lembaga/ unit  pendidikan  dan  pelatihan ditentukan oleh kompetensi  yang  dimiliki  oleh  para  peserta  setelah  mengikuti proses pendidikan  dan  pelatihan.
10.    Hal˗hal yang harus dipersiapkan dalam pendidikan dan pelatihan yaitu merumuskan tujuan pendidikan dan pelatihan, penyusun bahan atau materi pelajaran, menentukan metode, teknik, alat-alat bantu pendidikan dan pelatihan, dan menyusun program pelaksanaan.


B.       Saran
1.        Materi yang diberikan pada saat pendidikan dan pelatihan harus sesuai dengan tujuan organisasi, sehingga masalah-masalah pekerjaan tidak ada lagi.
2.        Para  peserta  yang mengikuti pendidikan dan pelatihan, diharapkan mampu menunjukan perilaku aktual  individu tersebut sesuai dengan  perilaku  yang  diharapkan  oleh  organisasi.
3.        Dalam penggunaan metode pendidikan dan pelatihan baik on the job training maupun off the job trianing harus mampu meningkatkan, mengembangkan, dan membentuk pegawai dimana pegawai mempelajari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), kemampuan (ability) atau perilaku terhadap tujuan pribadi dan organisasi sehingga tercipta sumber daya manusia yang berkualitas.



















STUDI KASUS
Pendidikan dan pelatihan di dalam dunia kerja baik di perusahaan, organisasi, lembaga, atau bahkan dalam instansi pendidikan sangat penting bagi tenaga kerja untuk bekerja lebih menguasai dan lebih baik terhadap pekerjaan yang dijabat atau akan dijabat kedepan.
X adalah seorang pegawai di suatu lembaga. X baru saja mendapatkan jabatan baru berdasarkan formasi yang tersedia, namun dalam melaksanakan pekerjaan barunya, X belum mampu mengerjakan pekerjaanya dengan baik sesuai dengan yang diharapkan oleh lembaga tersebut. Hal ini mendorong pihak instansi lembaga tersebut untuk memfasilitasi pendidikan dan pelatihan karir agar X mendapatkan hasil kinerja yang baik, etèktif dan efisien sesuai dengan tugas barunya.
Namun setelah X mengikuti pendidikan dan pelatihan, ia belum sepenuhnya dapat mengerjakan dan meningkatkan hasil kinerjanya, bagaiamanakah agar X dapat bekerja sesuai dengan tuntutan lembaga tersebut?
Solusi yang ditawarkan :
1.      X diberhentikan dari pekerjaanya karena belum mampu memenuhi tuntutan lembaga tersebut.
2.      X diturunkan dari jabatan barunya dan kembali lagi menduduki jabatan sebelumnya.
3.      X tetap dipekerjakan dengan jabatan barunya dan selama bekerja dia mendapat pelatihan dan bimbingan dari pegawai lain yang berkemampuan tinggi dan mempunyai kewenangan melatih (On the job training).










DAFTAR PUSTAKA
Irwandi Hutbah. 2013. Pendidikan dan Pelatihan. Dalam http://www.scribd.com/doc/55461188/Makalah-Pendidikan-Dan-Pelatihan-Diklat  diakses pada tanggal 29 Mei 2013
Muchlisin Riadi. 2012. Jenis dan Metode Pendidikan dan Pelatihan. dalam http://www.kajianpustaka.com/2012/11/jenis-dan-metode-pendidikan-dan.html diakses pada tanggal 4 Juni 2013
Muhammad Alwan. 2012. Peranan Pendidikan dan Pelatihan Dalam Pengembangan SDM.  dalam http://tekpenfip.wordpress.com/2012/12/08/peranan-pendidikan-dan-pelatihan-dalam-pengembangan-sdm/ diakses pada tanggal 4 Juni 2013
Pujirahayu, Rostanti. 2008. Analisis Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Upaya Peningkatan Pelayanan Masyarakat pada Aparatur Sekretariat Daerah. Tesis. PP U MI Makassar.
Zakarija Achmat. 2010. Pendidikan dan Pelatihan . dalam  http://zakarija.staff.umm.ac.id/files/2010/12/PENDIDIKAN-DAN-PELATIHAN1.pdf diakses pada tanggal 29 Mei 2013.



DAFTAR PERTANYAAN

1.        Novidha Ratna Lestari
Apa saja kelebihan dan kekurangan pendidikan dan pelatihan?
Jawab:  (Nani Wahyuni)
Kelebihan pendidikan dan pelatihan yaitu dapat banyaknya manfaat yang didapatkan yaitu:
a.    Bagi organisasi yaitu peningkatan produktivitas kerja organisasi sebagai keseluruhan, terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan, terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan kegiatan tepat, meningkatkan semangat kerja seluruh pegawai dalam organisasi dengan komitmen organisasi yang lebih tinggi, dan mendorong sikap keterbukaan manajemen.
b.    Bagi individu yaitu meningkatkan, mengembangkan, dan membentuk pegawai dimana pegawai mempelajari pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), memotivasi pegawai untuk bekerja yang lebih baik, meningkatkan kemampuan pegawai untuk mengatasi stress, frustasi, dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya diri.
c.    Bagi kelompok kerja yaitu terjadinya proses komunikasi yang efektif, terciptanya iklim kerja yang baik, adanya persepsi yang sama tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan, dan ketaatan semua pihak terhadap berbagai ketentuan.
Adapun kekurangan pendidikan dan pelatihan yaitu
a.    Apabila pendidikan dan pelatihan tersebut menggunakan metode off the job training maka membutuhkan biaya yang banyak, mengurangi waktu kerja, membutuhkan tempat atau ruangan khusus, dan peralatan yang diperlukan dalam pendidikan dan pelatihan.
b.    Membutuhkan pelatih yang benar-benar ahli di bidangnya, berminat, dan mampu mengajar.
2.        Yelli Fiolita
Apa hambatan dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan?
Jawab: (Puguh Gita Januar)
Hambatan dalam penyelenggaraan masing-masing pendidikan dan pelatihan berbeda-berbeda. Hambatan yang dapat muncul dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan diantaranya:
1.        Tujuan pendidikan dan pelatihan belum dijabarkan dengan jelas sehingga capaian/ indikator keberhasilan pendidikan dan pelatihan tidak dapat diukur dengan baik.
2.        Materi pendidikan dan pelatihan belum dikembangkan dalam bentuk struktur kurikulum pelatihan yang terperinci sehingga menjadi salah satu kendala dalam proses pelaksanaa.
3.        Tenaga pelatih yang kurang mampu dalam mengajarkan materi dan kurang menciptakan pelaksanaan pendidikan pelatihan yang efektif dan efisien sehingga hasil pendidikan dan petihan kurang maksimal.
4.        Sumber dana yang terbatas, sehingga meyebabkan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tidak maksimal.
5.        Metode yang digunakan digunakan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan dan pelatihan. Metode yang digunakan tidak bervariatif  sehingga membosankan bagi para peserta pendidikan pelatihan.
6.        Adanya latar belakang pengalaman, minat, dan pendidikan berbeda diantara para peserta pendidikan dan pelatihan menyebabkan keberhasilan pendidikan dan pelatihan pun berbeda-beda serta terbatasnya pemahaman peserta tentang keilmuan pendidikan dan pelatihan.
3.        Nurdiana Lestari
Diantara off the job training dan on the job training manakah yang lebih baik? Sebutkan kelebihan off the job training dan on the job training?
Jawab:  (Tutut Hardianti)
Diantara off the job training dan on the job training yang lebih baik digunakan yaitu on the job training. Hal ini disebabkan karena metode on the job training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat, sedangkan metode off the job training lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
Kelebihan off the job training diantaranya yaitu pelatih yang ada biasanya seseorang yang lebih professional, memberikan wawasan tambahan bagi karyawan tentang sesuatu yang baru, di samping materi yang disajikan dalam program pelatihan dan pengawasan, hasil dari proses pelatihan juga dapat segera diketahui karena pelatihan dilakukan dalam kelompok.
Kelebihan on the job training yaitu:
a.         Sangat ekonomis karena tidak perlu membiayai pelatih dan peserta, serta tidak memerlukan penyediaan peralatan dan ruangan khusus.
b.        Para peserta sekaligus berada dalam situasi kerja yang aktual dan konkret.
c.         Memberikan praktek aktif bagi para  terhadap pengetahuan yang dipelajarinya olehnya.
d.        Para peserta belajar dan langsung mempraktekkan, sehingga dapat diketaui apakah yang dikerjakan benar atau salah.
e.         Pelatihan dibimbing langsung oleh karyawan yang lebih senior dan mestinya lebih berpengalaman.
f.         Tidak menyita waktu yang banyak


File Lengkap Dapat diunduh DI SINI 

2 komentar: