Senin, 09 Juni 2014

GURU JUJUR PESERTA DIDIK MUJUR



GURU JUJUR PESERTA DIDIK MUJUR

Syukron Zahidi Arrahmi
Mahasiswa FKIP UNS

ABSTRAK
Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengupas beberapa hal yang sering terlupa oleh guru diantaranya: (1) pentingnya kejujuran bagi guru untuk mewujudkan peserta didik yang mujur; (2) strategi penanaman kejujuran ke peserta didik; (3) pengaruh dari guru yang jujur terhadap peserta didik berdasarkan kajian teoritis.
Metode dalam penulisan artikel adalah dengan pendekatan kualitatif yang didasarkan pada kajian pustaka dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang dapat dipercaya.
Hasil Pembahasan pentingnya kejujuran sudah jelas tercantum dalam QS. Al-ahzab 70 dan beberapa hadis. Jujur digolongkan sesuai niat, tekad, amal, dan perbuatan. Strategi penanaman kejujuran dengan cara bercermin, budaya, dan pujian. Pengaruh guru dalam pembentukan peserta didik mujur sangat dominan karena guru aktor utama atau orang tua yang sering bertemu dengan siswa.
Kesimpulannya guru yang jujur dapat mempengaruhi kemujuran dari peserta didik. Karena jujur meliputi dari jujur dari niat, tekad, amal, dan perbuatan.

Kata kunci: Guru, Jujur, Peserta didik, Mujur


PENDAHULUAN
Menurut data UNESCO Pendidikan Indonesia merupakan nomor seratus ke atas di dunia ini membuktikan betapa kurang berlakunya sistem pendidikan di Indonesia. Selain rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia permasalahan-permasalahan yang saat ini marak adalah tindakan korupsi di kalangan pemimpin negeri ini. Permasalahan pendidikan berupa terbengkalainya pengelolaan Ujian Nasional dan banyaknya kegiatan contek mencotek dikalangan siswa. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia masih kurang baik.
Padahal telah dijelaskan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional (2003). Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk pembangunan, derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Pembangunan sumber daya manusia mempunyai peranan sangat penting bagi kesuksesan dan keseimbangan pembangunan oleh karena itu pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia mutlak diperlukan. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, pendidikan pada dasarnya merupakan proses mencerdaskan kehidupan bangsa dan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Pemerintah mengharapkan dalam pendidikan menjadikan sumber daya alam yang berkualitas tinggi. Kualitas yang tinggi dapat dikatakan bahwa peserta didik yang diharapkan mujur dalam kehidupan. Mujur dapat dikaitkan dengan sukses pendidikan dan sukses material atau juga dapat berpengaruh bagi masyarakat. Pemeran utama yang akan mewujudkan hal tersebut adalah Sumber daya manusia (Guru) yang berkarakter kuat dan cerdas.
Peserta Didik Mujur
Salah satu amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Dijelaskan dalam undang-undang, pendidikan merupakan peran utama dalam pembangunan nasional. Pembangunan nasional dipengaruhi oleh sumber daya manusia. Dalam pendidikan sumber daya manusia yang berkecimpung adalah peserta didik. Peserta didik yang diaharapakan adalah manusia yang mujur. Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia mujur adalah beruntung, bernasib baik, atau bahagia.
Peserta didik yang mujur akan ikut serta dalam pembangunan nasional. Peserta didik Mujur diantaranya mujur ilmunya, mujur perilakunya, mujur hidupnya, dan mujur rezekinya.
Guru Jujur
Guru  adalah seorang pendidik yang mendidik peserta didik di lingkungan sekolah. Guru bisa diartikan sebagai kosakata dalam bahasa jawa artinya di “gugu dan di tiru”. Maknanya adalah bahwa seorang guru dengan segala perkataan dan perbuatan itu bisa ditiru. Atau bisa  diartikan segala tindak tanduk, sikap perilaku, gaya hidup dilingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat perilaku seorang guru bisa dijadikan contoh langsung bagi peserta didik dan bagi masyarakat sekitar. Dilingkungan sekolah tugas guru mendidik dan mengatur peserta didik dalam hal kegiatan belajar, mengajar, dan perilaku.
Menurut E Mulyasa (2012) “Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral pertama, dan utama. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah”.  Paparan Mulyasa menjelaskan pentingnya guru dalam pendidikan. Salah satu aspek yang terpenting adalah penanaman karakter terhadap peserta didik. Sesuai masalah pendidikan yang saat ini terjadi di Indonesia, pentingnya penanaman karakter oleh guru terhadap peserta didik untuk mewujudkan negeri yang nyaman dan damai.
Jujur adalah akhlak  yang sudah ditanamkan oleh allah swt. Kepada setiap insan sejak penciptaan. Kejujuran akan semakin hidup subur dan menjadi kepribadian manakala kita benar-benar mengesakan tuhan .Percaya sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-satunya yang tahu apa yang kita lakukan, tetapi karena kemusyrikan, mengagungkan jabatan , terlalu cinta pada seseorang, pengaruh lingkungan, ketakutan dan juga karena keadaan. ingat, sekali berbohong, akan mengundang kebohongan yang lain, dan kebohongan membuat diri tersiksa dan tidak nyaman.
Ibnu mas’ud ra, berkata bahwa rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepadaa kebaikan, dan kebaikan disisi allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan kebohongan, mengantarkan kepada kedurhakaan. Dan kedurhakaan mengantarkan keneraka, seseorang yang senantiasaberkata bohong akan dicatat disisi allah sebagai pembohong” (HR. mutafaq’alaih). Hidayatullah (2009) Sifat amanah tidak dapat terlepas dari sifat jujur. Amanah merupakan bentuk komitmen dalam pendidikan salah satu karakter utamanya adalah kejujuran.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dikemukakan sebelumnya dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1) Seberapa pentingnya kejujuran?; 2) Bagaimana strategi penanaman kejujuran?; 3) Adakah pengaruh guru yang jujur terhadap peserta didik yang mujur?.


TUJUAN
Tujuan dalam penulisan artikel ini diantaranya sebagai berikut: 1) mengetahui pentingnya kejujuran; 2) mengetahui strategi penanaman kejujuran kepada peserta didik; 3) mengetahui adanya pengaruh dari guru yang jujur terhadap peserta didik untuk menuju mujur. 

METODE KAJIAN
Penulisan artikel ini menggunakan metode kajian pustaka dan pengalaman. Kajian pustaka yaitu pengumpulan dari beberapa sumber untuk dikaji menjadi artikel ilmiah. Kajian pustaka diperoleh dari sumber-sumber yang berkaitan dan dapat dipercaya diantaranya buku, artikel di internet yang dapat dipercaya dan sebagainya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pentinya Kejujuran
Kejujuran adalah pangkal semua perbuatan baik manusia. Tidak ada perbuatan dan ucapan baik kecuali kejujuran. Oleh sebab itu, Allah menyuruh orang-orang mukmin agar selalu berkata benar dan berlaku jujur. Ini diperintah oleh Allah melalui firman-Nya yang bermaksud: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang jujur dan benar”. (Q.S. al-Ahzab: 70)
Rasulullah SAW bersabda: “Kamu semua wajib bersikap jujur kerana kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada syurga”. (HR Ahmad, Muslim, at-Tirmizi, Ibnu Hibban). Rasulullah SAW bersabda: “Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan-akan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan.” (HR Abu Dunya) Kejujuran adalah tiang agama, sendi akhlak, dan pokok kemanusiaan manusia. Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlak tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia.
Makna, Hakikat, dan Tingkat Kejujuran
Ketahuilah bahwa lafal ash-shidiq (kejujuran) menurut islam di pergunakan dalam enam makna; 1) Jujur dalam perkataan; 2) Jujur dalam niat dan kemauan; 3) Jujur dalam tekad; 4) Jujur dalam menepati tekad yang di buat; 5) Jujur dalam amal; 6) Jujur dalam seluruh sifat yang di pandang baik (mulia) oleh agama.
Pertama, jujur dalam perkataan.ialah, kejujuran dalam pemberitaan atauhal-hal yaang berkaitan dengan pemberitaan. Kedua, dalam nit dan kemauan. Kejujuran seperti ini dapat di kembalikan kepada mana ikhlas, yaitu orang yang motivasinya dalam segala aktivitas hanya Allah swt. Ketiga, jujur dalam tekad. Manusia biasanya senang memasang tekad untuk melakukan amal tertentu. Keempat, jujur dalam menepati tekad yang di buat. Seseorang terkadang dapat dengan mudah melontarkan tekad tertentu krena memang tidaka sulit mengucapkannya. Akan tetapi, sulitnya menepati tekad itu baru terasa ketika yang menjadi tekad itu benar-benar terwujud atau dornga hawa nafsu mulai ikut mengacau, Pada saat itu, tekad yang telah di buat itu dapat melemah bahkan di ingkari sendiri oleh pelakunya. Kelima, Jujur dalam beramal. Bentukny adalah upaya seseorang agar antara tindakan-tindakan lahiriah tidak berbeda denga apa yang ada dalam hatinya. Keenam, Jujur dalam segala sifat baik yang di anjurkan agama. Inilah tingkatan kejujuran yang paling tinggi. Contohnya adalah jujur dalam rasa takut dan pengharapan kepada Allah swt, jujur dalam mengagungkannya, jujur dalam sikap zuhud, tawakal, dan menyayangi sesama.
Strategi Penanaman Kejujuran terhadap Peserta Didik
Penanaman kejujuran terhadap peserta didik adalah dipengaruhi oleh semau aspek yang ada di sekolah yaitu kepalasekolah, budaya, dan guru. Tapi hal yang paling utama adalah guru, karena guru merupakan orang yang selalu bertemu dengan peserta didik. Hal-hal dalam strategi penanaman kejujuran diantaranya: Pertama, bercermin. Maksuda dari bercermin adalah guru harus intropeksi terlebih sudah jujur apa belum dalam mendidik. Diantaranya mendidik dengan hati, materi yang disampaikan secara benar.  
Kedua, budaya. Budaya ini dapat dikembangankan dengan gerakan berani jujur atau tidak mencontek. Caranya jangan beri kesempatan menyontek. Atur tempat duduk, pisahkan siswa-siswa potensial (baik yang meminta maupun yang memberi), beri evaluasi yang lebih sulit untuk dicontek sedapatnya justru berfungsi lebih baik dalam penilaian (uraian, analisis, dst.), dan awas dalam mendampingi siswa saat ujian. Jangan segan untuk menegur dan memberi hukuman keras jika mendapati siswa menyontek.
Ketiga, Pujian. Dalam kegiatan belajar, guru harus memberi pujian lebih pada usaha, proses, dan nilai yang diperoleh dengan jujur. Kenali bentuk kecurangan, supaya bisa diidentifikasi. Jika terindikasi menyontek namun tidak tertangkap tangan, tegur dengan baik, tapi jangan permalukan. Tunjukkan bahwa guru tahu perbuatan menyonteknya. Tuliskan pesan pada kertas ulangannya, tunjukkan sisi baiknya.
Pengaruh Guru yang Jujur terhadap Peserta Didik untuk Mujur.
Guru merupakan aktor utama dalam pembentukan karakter peserta didik. Peserta didik diharapkan mujur. Mujur dalam ilmunya, perilakunya, kehidupannya, dan rezekinya. Salah satu karakter yang dimiliki guru adalah jujur. Jujur dapat dikaitkan dengan segala aspek karena sesuai dengan tingkatan kejujuran. Guru mempunyai tingkatan kejujuran diantaranya, jujur dalam berniat maksudnya mendidik dengan niatan yang baik. Jujur dalam bertindak yaitu ilmu yang diberikan berupa ilmu yang benar dan baik bagi peserta didik. Dengan demikian guru yang jujur akan mempengaruhi peserta didik untuk mujur.

KESIMPULAN DAN SARAN
Tujuan pendidikan nasional menjadikan sumber daya manusia yang unggul atau bisa dikatakan peserta didik yang mujur. salah satu peran utama dalam perwujudan hal tersebut adalah peran guru dalam pendidikan. Supaya guru dapat melaksanakan perannya dengan baik harus memiliki karakter yang kuat salah satu karakter paling utama adalah jujur. Guru jujur, jujur diartikan jujur dalam niat, tekad, perkataan, perbuatan, amal, dan seluruh sifat yang mulia oleh agama. Guru jujur peserta didik mujur.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Al-Hadist
Hidayatullah, Furqon. 2009. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Mulyasa. 2012. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi, dan Implementasi). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Undang-undang 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

0 komentar:

Poskan Komentar